
Sahabat Wirausaha, ada usaha yang lahir bukan karena melihat peluang pasar, bukan karena ingin bebas finansial — melainkan semata-mata karena seorang ibu ingin anaknya bisa makan dengan aman. Di sinilah Bunbueok bermula: dari dapur kecil di Depok, dari tangan seorang ibu, dan dari cinta yang tidak pernah memerlukan alasan.
Trie Damayanti mendirikan Bunbueok pada tahun 2018, bukan dengan rencana bisnis yang matang, melainkan dengan satu kebutuhan yang sangat konkret. Putrinya, Khaila Alyfa Putrie, memiliki penyakit jantung bawaan yang membuatnya tidak bisa sembarangan mengonsumsi makanan atau jajan di luar. Sementara Khaila tumbuh dengan kecintaan besar terhadap segala hal berbau Korea — termasuk bungeoppang, roti ikan khas jalanan Korea yang kala itu belum banyak dijual di Indonesia.
Maka Trie pun mulai membuatnya sendiri. Dengan bahan yang dipilih dengan hati-hati, dengan proses yang ia jaga sendiri, semata agar Khaila bisa menikmati camilan kesukaannya dengan aman. Dari situlah lahir nama yang terdengar seperti bahasa Korea itu: Bunbueok — sebuah brand yang sejak hari pertama sudah mengandung cerita.
Lima Belas Tahun di Bank, Lalu Memilih Berkreasi di Dapur
Sebelum memulai Bunbueok, Trie bukan orang yang asing dengan dunia kerja formal. Selama 15 tahun, ia berkarier sebagai karyawan di industri perbankan — dunia yang menuntut ketelitian, pelayanan prima, dan konsistensi setiap harinya — nilai-nilai yang tanpa ia sadari kelak menjadi fondasi cara ia menjalankan usahanya sendiri.
Ketika akhirnya memutuskan untuk serius membangun Bunbueok, Trie tidak bermodal asal-asalan. Modal awal berasal dari dana pensiun dini suaminya — sebuah keputusan keluarga yang diambil dengan penuh pertimbangan. Sebagian besar dari modal tersebut ia alokasikan bukan untuk promosi atau kemasan, melainkan untuk sesuatu yang ia anggap jauh lebih penting: belajar.
Ia mengikuti kursus langsung bersama Chef Korea, seorang chef Korea, untuk memahami teknik autentik pembuatan bungeoppang dari awal — dari pemilihan adonan, standar pemanggangan, hingga konsistensi rasa. Tak cukup di sana, ia juga mengikuti kursus pembuatan roti, donat, dan berbagai kue lainnya bersama Ibu Fatmah Bahalwan. Proses belajar intensif ini ia jalani sepanjang tahun 2018 hingga 2019.
"Saya tidak hanya belajar resep, tapi juga teknik, konsistensi rasa, pemilihan bahan, hingga proses produksi yang baik," ceritanya.
Komitmen pada kualitas ini yang kemudian menjadi ciri khas Bunbueok: rasa yang autentik, tidak terlalu manis bahkan untuk varian isian cokelat, dan tekstur yang konsisten dari satu produk ke produk lainnya.
Tumbuh Bersama, Satu Produk dalam Satu Cerita
Selama beberapa tahun pertama, Bunbueok tumbuh perlahan tapi konsisten. Dari lingkaran terdekat, kemudian merambah ke bazaar dan komunitas. Trie mulai dibantu beberapa orang untuk operasional, dan pesanan mulai lebih stabil. Tidak cepat, tidak dramatis — tapi nyata.
Yang membuat perjalanan ini istimewa bukan hanya angka pertumbuhan produksi. Selama masa itu, Bunbueok bukan sekadar usaha. Ia adalah kegiatan yang Trie dan Khaila jalani bersama. Setiap proses produksi, setiap wadah yang dipacking, setiap acara bazaar — semuanya mengandung kebersamaan yang tidak ternilai.
November 2022: Ketika Segalanya Terasa Berhenti
Lalu datanglah November 2022. Khaila Alyfa Putrie berpulang.
Tidak ada cara yang lebih halus untuk menceritakannya. Kehilangan itu nyata dan berat. Dan bagi Trie, kehilangan Khaila bukan hanya kehilangan seorang anak — ia juga kehilangan alasan pertama mengapa Bunbueok ada, kehilangan teman dalam setiap proses produksi, dan kehilangan wajah yang selalu ada di balik nama brand yang ia bangun.
"Setiap proses produksi, setiap produk yang dibuat, semuanya selalu mengingatkan saya pada Khaila. Ada masa di mana saya ingin berhenti saja," ungkap Trie.
Usaha benar-benar berhenti beroperasi. Dari akhir 2022 hingga akhir 2023, Bunbueok mengalami fase stagnan — bukan karena pasar sepi, bukan karena produk tidak laku, melainkan karena pemiliknya sedang berusaha berdiri kembali.
Memilih untuk Melanjutkan Semangat Khaila
Tapi di tengah duka yang sangat berat itu, ada satu pikiran yang perlahan-lahan muncul: jika Bunbueok dihentikan, maka seakan cerita yang pernah mereka mulai bersama pun ikut terhenti.
Pertengahan 2023, Trie mulai bangkit. Bukan karena sudah sepenuhnya pulih, tapi karena ia memilih bahwa Bunbueok tidak boleh berakhir — ia harus menjadi legacy yang terus berjalan, membawa nama dan semangat Khaila di dalamnya.

Dengan cara pandang yang telah berubah, Trie menata ulang Bunbueok secara lebih serius. Ia membangun sistem produksi yang lebih terstandarisasi, memperbaiki pencatatan keuangan yang sebelumnya ia akui masih berantakan di fase awal. Ia mulai membuka peluang kerja sama B2B dengan kafe-kafe, memperluas jaringan, dan aktif kembali di berbagai bazaar dan komunitas UMKM.
Yang paling berani: ia mulai bercerita. Tentang Khaila, tentang dari mana Bunbueok berasal, tentang mengapa setiap produk yang mereka buat mengandung makna lebih dari sekadar camilan.
"Ketika saya mulai berani membagikan kisah perjalanan kami, brand ini menjadi lebih dekat secara emosional dengan pelanggan. Orang tidak hanya membeli produk, tapi juga terhubung dengan cerita di baliknya," refleksinya.
Dari Sisa Produksi, Tetangga Pun Ikut Berdaya
Ada satu hal kecil tapi bermakna dalam operasional Bunbueok yang jarang diceritakan: potongan pinggiran bungeoppang.
Setiap produk yang keluar dari cetakan selalu memiliki sisa potongan di pinggirannya agar bentuknya lebih rapi. Alih-alih dibuang, Trie memberikan sisa-sisa ini kepada tetangga di sekitar rumah produksi. Mereka mengolahnya kembali — dicampur telur dan susu, dicetak dengan loyang, dikukus, lalu dijual kembali sebagai camilan baru.
Dari inovasi sederhana ini, dua hal terwujud sekaligus: limbah produksi berkurang, dan ibu-ibu rumah tangga di sekitar mendapat peluang penghasilan tambahan.
"Bagi saya, usaha tidak harus langsung berdampak besar. Selama bisa memberi manfaat nyata, meskipun dimulai dari lingkungan terdekat, itu sudah menjadi nilai yang sangat berarti," kata Trie.
Cita Rasa yang Berbicara Sendiri
Dalam hal produk, pelanggan Bunbueok kerap memberikan catatan yang konsisten: rasanya tidak terlalu manis, bahkan untuk varian isian cokelat sekalipun, dan dinilai lebih autentik dibandingkan produk bungeoppang lainnya yang beredar di pasaran. Keunggulan ini bukan kebetulan — ia adalah hasil dari proses belajar yang serius sejak awal, dari kursus langsung dengan chef, dari ratusan kali praktik di dapur hingga standar rasa yang benar-benar terjaga.
Bunbueok kini juga telah memiliki perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan sertifikasi halal — dua hal yang memperkuat kepercayaan dalam kerja sama B2B maupun penjualan langsung ke konsumen.
Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari
Mimpi yang Terus Dijaga

Ke depan, Trie memiliki target yang jelas: memperluas kerja sama B2B dengan lebih banyak kafe, membangun sistem produksi yang siap untuk skala lebih besar, dan suatu hari membuka outlet sendiri sebagai representasi fisik brand Bunbueok. Namun di atas semua target bisnis itu, ada satu mimpi yang tidak berubah: menjaga Bunbueok tetap hidup dan terus berkembang sebagai legacy dari Khaila Alyfa Putrie.
Untuk Sahabat Wirausaha yang ingin mencoba produk Bunbueok atau menjajaki peluang kerja sama, kamu bisa terhubung langsung melalui:
- WhatsApp: wa.me/6285692973599
- Instagram: @bunbueokby_bunkhaila
- TikTok: @bunbueokby_bunkhaila
Kisah Trie dan Bunbueok mengingatkan kita bahwa usaha tidak selalu lahir dari ambisi — kadang ia lahir dari cinta yang paling sederhana. Dan bahwa bertahan bukan berarti tidak pernah patah, melainkan memilih untuk tetap melangkah, meski dengan hati yang masih dalam proses untuk sembuh.
Semoga bermanfaat!
Trie Damayanti adalah salah satu Member Utama UKMIndonesia.id — dan kisahnya adalah salah satu alasan mengapa komunitas ini ada: untuk memastikan perjalanan seperti milik Trie tidak berhenti sebagai cerita pribadi, melainkan menjadi inspirasi bagi ribuan wirausahawan lain yang sedang berjuang di tahap yang sama.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM — yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!








