
Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)
Halo Sahabat Wirausaha,
pernahkah kamu melihat tanaman kecil berdaun bulat yang tumbuh liar di pekarangan, sela paving, atau pinggir selokan, lalu langsung menganggapnya sekadar “rumput pengganggu”? Bisa jadi tanaman itu adalah kerokot atau krokot (Portulaca oleracea). Tanaman yang selama ini dicap gulma ini pelan-pelan mulai naik kelas dan dilirik sebagai bahan pangan bernilai di berbagai negara.
Fenomena ini menarik dibaca dari kacamata UMKM. Di satu sisi, konsumen semakin sadar kesehatan dan mencari bahan pangan alami berbasis tanaman. Di sisi lain, banyak pelaku usaha—baik di desa maupun kota—belum menyadari bahwa tanaman yang tumbuh liar di sekitar mereka justru bisa menjadi pintu masuk ke peluang usaha pangan sehat berbasis lokal.
Artikel ini mengajak Sahabat Wirausaha melihat kerokot bukan sebagai “tanaman ajaib”, melainkan sebagai contoh bagaimana bahan lokal dibaca ulang oleh pasar, serta apa artinya bagi peluang usaha UMKM di Indonesia.
Tanaman Lama, Peluang yang Baru Dibaca
Kerokot bukan tanaman baru dalam keseharian masyarakat Indonesia. Ia tumbuh hampir di semua jenis tanah, mudah hidup di iklim tropis, dan dalam praktik tradisional kerap dimanfaatkan sebagai sayuran atau campuran jamu. Namun karena tumbuh tanpa dibudidayakan secara serius, kerokot lama tidak diposisikan sebagai komoditas bernilai ekonomi.
Perubahan mulai terlihat ketika tren pangan sehat dan plant-based menguat. Sejumlah media menyoroti kerokot sebagai sayuran bernutrisi yang dihargai di pasar tertentu, bahkan mulai masuk ke restoran dan pasar organik di Eropa. Bukan karena kerokot tiba-tiba berubah, melainkan karena cara pasar memandang pangan lokal ikut berubah.
Kerokot Dianggap Bernutrisi: “Superfood” sebagai Bahasa Pasar
Istilah superfood perlu dipahami secara proporsional. Ia bukan kategori ilmiah resmi, melainkan bahasa pasar untuk menggambarkan bahan pangan yang dianggap bernutrisi dan sejalan dengan gaya hidup sehat.
Agar tidak berhenti di narasi “katanya superfood”, pelaku UMKM perlu memahami alasan rasional kenapa kerokot mulai dilirik pasar kesehatan. Bukan untuk menjual klaim berlebihan, tetapi untuk membangun cerita produk yang masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan.
Berbagai tulisan populer dan kajian akademik mencatat bahwa kerokot termasuk tanaman dengan kandungan gizi nabati yang cukup lengkap. Tanaman ini dikenal mengandung asam lemak omega-3 nabati—yang relatif jarang ditemukan pada sayuran hijau—serta vitamin seperti A, C, dan E, dan sejumlah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam pola makan seimbang.
Kandungan inilah yang membuat kerokot menarik bagi konsumen yang mulai menggeser pola makannya ke arah plant-based dan clean eating. Dalam konteks ini, kerokot tidak diposisikan sebagai makanan penyembuh, melainkan sebagai sayuran pendukung pola makan sehat, terutama bagi mereka yang ingin menambah variasi asupan nabati.
Dari sudut pandang usaha, pemahaman ini penting. UMKM tidak perlu menjelaskan detail ilmiah yang rumit, tetapi cukup menyampaikan bahwa kerokot dikenal sebagai sayuran hijau bernutrisi yang telah lama dikonsumsi di berbagai budaya. Dengan begitu, cerita produk tetap kuat, informatif, dan tidak berisiko secara regulasi.
Baca juga: 5 Alasan Buah Sukun Layak Menjadi Peluang Usaha dan Solusi Pangan UMKM Nusantara
Kenapa Relevan dengan Tren Pasar Kesehatan?
Tren pangan sehat saat ini bergerak ke arah:
1. Bahan alami dan minim proses: Konsumen makin hati-hati dengan makanan yang terlalu banyak proses industri: pengawet, pewarna buatan, perisa sintetis, atau proses panjang yang sulit dilacak. Mereka cenderung memilih bahan yang mendekati bentuk aslinya, atau setidaknya diolah secara sederhana.
Contoh di pasar:
- Sayur segar, sayur siap masak, atau bahan kering alami lebih diminati dibanding produk ultra-proses.
- Label seperti tanpa pengawet, tanpa pewarna buatan, diolah sederhana makin sering dicari.
2. Produk berbasis tanaman (plant-based): Tren ini bukan berarti semua orang jadi vegetarian. Yang berubah adalah proporsi dan kesadaran: konsumen ingin lebih banyak asupan nabati dalam menu harian mereka.
Pendorong utamanya:
- Kesadaran kesehatan (kolesterol, gula darah, pencernaan).
- Kekhawatiran lingkungan (jejak karbon pangan hewani).
- Gaya hidup fleksibel: plant-forward, bukan ekstrem.
Contoh di pasar:
- Sayuran lokal naik kelas jadi menu utama, bukan sekadar pelengkap.
- Bahan nabati diberi narasi fungsi: serat, vitamin, variasi hijau di piring.
3. Cerita asal-usul bahan yang jelas dan berkelanjutan: Konsumen kini tidak hanya bertanya “ini enak atau tidak”, tapi juga:
- Dari mana asalnya?
- Ditanam atau diperoleh dengan cara apa?
- Aman dan layak konsumsi atau tidak?
Cerita asal-usul yang dicari pasar biasanya mencakup:
- Asal daerah atau lingkungan tumbuh.
- Cara budidaya atau pengelolaan (bukan asal ambil).
- Dampak ke petani kecil atau rumah tangga lokal.
Kerokot berada di irisan tren tersebut. Ia lokal, mudah tumbuh, dan sudah dikenal dalam tradisi pangan. Bagi sebagian konsumen, daya tariknya justru ada pada cerita “tanaman yang dulu diremehkan, kini dibaca ulang”.
Bagi UMKM, peluangnya tidak hanya terletak pada produknya, tetapi juga pada cara bercerita yang jujur dan proporsional.
Bentuk Peluang Usaha yang Masuk Akal bagi UMKM
Jika dibaca secara realistis, peluang usaha kerokot tidak harus langsung berbentuk produk kompleks. Beberapa bentuk usaha yang relatif masuk akal antara lain:
- Kerokot segar
Kerokot dijual sebagai sayuran segar dengan standar kebersihan, sortasi, dan pengemasan yang lebih rapi. Menyasar konsumen urban, katering sehat, atau restoran yang ingin menawarkan bahan lokal berbeda. - Kerokot kering atau bubuk
Proses pengeringan memperpanjang umur simpan dan memudahkan distribusi. Produk ini bisa diposisikan sebagai bahan teh herbal atau campuran pangan sehat, tanpa klaim kesehatan berlebihan. - Olahan pangan sederhana
Misalnya sayur siap santap, lalapan, atau campuran menu sehat. Bentuk ini cocok untuk warung makan, kedai rumahan, atau layanan katering yang ingin menawarkan menu lokal bernuansa sehat.
Tidak semua bentuk harus dicoba sekaligus. Justru lebih sehat bagi UMKM untuk memulai dari satu bentuk yang paling dekat dengan pasar dan kemampuan produksi.
Baca juga: Kelengkeng Tak Lagi Sekadar Tanaman Kebun: Peluang Bisnis Bernilai Tinggi di Pasar Kota
Kelayakan Kerokot di Indonesia: Kekuatan Sekaligus Tantangan
Keunggulan utama kerokot adalah kemudahan tumbuh dan biaya tanam yang relatif rendah. Tanaman ini bisa dikembangkan di pekarangan rumah, lahan sempit, atau model urban farming. Potensi ini membuka peluang keterlibatan petani kecil dan rumah tangga sebagai pemasok bahan baku.
Namun, “mudah tumbuh” tidak berarti bisa sembarang dipetik dari liar dan langsung dijual. Untuk masuk ke pasar kesehatan, isu kebersihan lahan, sumber air, dan keamanan pangan menjadi krusial. Di sinilah tantangan UMKM muncul: bagaimana mengelola bahan yang selama ini dianggap liar menjadi pangan yang layak, rapi, dan dipercaya konsumen.
Tantangan Persepsi dan Edukasi Pasar
Salah satu hambatan terbesar usaha kerokot adalah persepsi. Bagi sebagian masyarakat, tanaman yang tumbuh dekat tanah dan selokan kerap dianggap kotor atau tidak layak konsumsi.
Karena itu, edukasi pasar menjadi bagian penting dari strategi usaha. Edukasi ini bukan melalui klaim berlebihan, melainkan dengan:
- menunjukkan proses pengolahan yang bersih,
- menjelaskan konteks konsumsi kerokot di berbagai budaya,
- menghadirkan produk dalam bentuk yang familiar bagi konsumen.
Pendekatan ini membantu mengurangi jarak psikologis antara konsumen dan bahan yang sebelumnya dianggap asing.
Peluang Hilirisasi, Tapi Bertahap
Riset akademik juga mulai menyoroti potensi kerokot untuk pangan fungsional hingga kosmetika. Namun bagi UMKM, peluang ini sebaiknya dibaca sebagai arah jangka menengah, bukan target instan.
Semakin ke hilir, tuntutan standardisasi, perizinan, dan kolaborasi teknis akan semakin tinggi. Di titik ini, kemitraan dengan kampus, peneliti, atau pelaku industri menjadi kunci. Tanpa itu, risiko usaha justru bisa lebih besar daripada peluangnya.
Baca juga: Ginger Lily untuk Shampoo Alami: Peluang UMKM di Industri Perawatan Berbasis Tanaman
Kerokot memberi pelajaran bahwa tidak semua peluang datang dari bahan baru. Kadang, peluang justru muncul dari bahan lama yang dibaca ulang karena konteks pasar berubah.
Bagi UMKM, kunci keberhasilan bukan sekadar ikut tren superfood, melainkan kemampuan membaca peluang secara rasional: memahami pasar, mengelola bahan baku, dan membangun narasi produk yang jujur. Dengan pendekatan ini, kerokot berpotensi menjadi bagian dari ekosistem usaha pangan lokal yang berkelanjutan—bukan sekadar sensasi sesaat.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Radar Tuban – Jawa Pos Group (2024). Krokot, tanaman liar yang sering dianggap gulma kini jadi superfood favorit di Eropa karena kaya omega-3. https://radartuban.jawapos.com/lifestyle/867122444/krokot-tanaman-liar-yang-sering-dianggap-gulma-kini-jadi-superfood-favorit-di-eropa-karena-kaya-omega-3
- IPB University (2025). Guru Besar IPB University jelaskan potensi krokot untuk obat tradisional dan kosmetika modern.
https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/12/guru-besar-ipb-university-jelaskan-potensi-krokot-untuk-obat-tradisional-dan-kosmetika-modern/ - Liputan6.com (2025). Krokot, tanaman liar jadi komoditas premium. https://www.liputan6.com/regional/read/5897314/krokot-tanaman-liar-jadi-komoditas-premium
- Alodokter (n.d.). Manfaat krokot: Bisa menjaga kesehatan mata sampai mencegah stroke. https://www.alodokter.com/manfaat-krokot-bisa-menjaga-kesehatan-mata-sampai-mencegah-stroke
- Jurnal STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung (n.d.). 18 manfaat tanaman krokot kaya omega-3 untuk kesehatan optimal.
https://jurnal.stkipmb.ac.id/18-manfaat-tanaman-krokot-kaya-omega-3-untuk-kesehatan-optimal-repository/









