
Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)
Halo Sahabat Wirausaha,
Parcel Ramadan bukan lagi sekadar tradisi kirim-kiriman menjelang Lebaran. Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis parcel berkembang menjadi kategori usaha yang sangat kompetitif. Marketplace memudahkan siapa saja menjual hampers, media sosial mempercepat penyebaran tren, dan konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan dari berbagai rentang harga.
Kondisi ini membuat satu hal menjadi jelas: pasar parcel Ramadan memang besar, tetapi juga makin padat.
Banyak UMKM masuk ke pasar ini karena melihat peluangnya. Namun tidak semuanya berhasil unggul. Sebagian hanya menjadi penjual musiman yang bersaing di harga, tanpa diferensiasi yang kuat. Di tengah kepadatan tersebut, strategi menjadi penentu. Berikut beberapa pendekatan agar UMKM tidak sekadar ikut arus, tetapi mampu tampil lebih unggul.
1. Tentukan Positioning, Jangan Jadi Parcel Generik
Masalah paling umum dalam bisnis parcel Ramadan adalah kemiripan isi. Hampers berisi kue kering, sirup, kurma, camilan manis, dan kemasan cantik. Harga berbeda tipis. Desain mirip. Isi hampir sama.
Ketika produk menjadi generik, konsumen akan membandingkan berdasarkan harga.
Padahal parcel bisa diposisikan secara lebih spesifik. Dalam berbagai pembahasan tentang peluang usaha parcel Ramadan, terlihat bahwa persaingan tidak hanya terjadi di harga, tetapi juga di konsep.
Beberapa alternatif positioning yang bisa dipilih:
- Parcel premium dengan kurasi produk artisan
- Parcel ekonomis untuk kebutuhan mass market
- Parcel healthy dengan produk rendah gula
- Parcel UMKM lokal dengan cerita produsen
- Parcel corporate dengan kemasan elegan dan branding logo
Ketika positioning jelas, keputusan harga dan strategi promosi akan lebih terarah. Parcel bukan lagi sekadar kumpulan produk, tetapi representasi nilai yang ditawarkan. Di pasar yang padat, kejelasan posisi jauh lebih penting daripada sekadar variasi isi.
2. Segmentasi Pasar: B2C dan B2B Butuh Strategi Berbeda
Banyak UMKM hanya fokus pada penjualan langsung ke konsumen (B2C). Padahal pasar parcel Ramadan memiliki dua segmen utama: individu dan korporasi.
Untuk B2C, keputusan pembelian seringkali bersifat emosional. Tampilan visual, estetika kemasan, dan kesan personal sangat berpengaruh. Konsumen mencari parcel yang “layak difoto” dan terasa istimewa saat diberikan kepada keluarga atau teman.
Sementara itu, pasar B2B (kantor, instansi, komunitas) lebih rasional dan sistematis. Mereka membutuhkan:
- Konsistensi kualitas
- Ketepatan waktu pengiriman
- Harga dalam jumlah besar
- Kemungkinan branding atau custom logo
Segmentasi ini penting karena strategi harga, kemasan, hingga komunikasi berbeda untuk masing-masing segmen. Parcel untuk korporasi tidak harus terlalu dekoratif, tetapi harus profesional dan konsisten. Sebaliknya, parcel untuk individu bisa lebih eksploratif secara visual. UMKM yang mampu membaca perbedaan ini akan memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pasar.
3. Struktur Harga Harus Dirancang Sejak Awal
Menentukan harga parcel bukan sekadar menjumlahkan harga seluruh isi lalu menambahkan margin tipis.
Struktur harga idealnya disusun dalam beberapa tier, misalnya:
- Paket Rp150.000
- Paket Rp250.000
- Paket Rp500.000
Di dalamnya, komposisi produk perlu dirancang strategis.
Salah satu pendekatan adalah menggunakan konsep “anchor product” dan “profit driver”. Anchor product adalah produk yang membuat parcel terlihat bernilai tinggi—misalnya kurma premium atau kue khas tertentu. Sementara profit driver adalah produk dengan margin lebih besar yang membantu menjaga keuntungan.
Jika seluruh isi parcel memiliki margin tipis, maka keuntungan akan sangat bergantung pada volume. Dalam kondisi persaingan ketat, pendekatan ini berisiko. Sebaliknya, jika struktur harga dirancang dengan keseimbangan antara produk premium dan produk margin sehat, parcel bisa tetap kompetitif tanpa mengorbankan laba.
Daftar rekomendasi isi parcel Ramadan bisa menjadi inspirasi komposisi, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan struktur biaya dan target pasar masing-masing usaha.
4. Kolaborasi Isi Hampers agar Lebih Menarik dan Berbeda
Salah satu strategi paling efektif untuk tampil unggul di pasar padat adalah kolaborasi.
Alih-alih mengisi parcel hanya dengan produk sendiri, UMKM bisa bekerja sama dengan pelaku usaha lain untuk menciptakan hampers yang lebih variatif dan unik. Beberapa bentuk kolaborasi yang bisa dipertimbangkan:
🔹 Kolaborasi Sesama UMKM Lokal
Misalnya:
- Produsen kue kering bekerja sama dengan roaster kopi lokal
- Penjual kurma menggandeng produsen madu UMKM
- Produsen camilan berkolaborasi dengan pembuat minuman herbal
Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya isi parcel, tetapi juga memperluas jaringan promosi. Masing-masing brand bisa saling memperkenalkan produk kepada audiens baru.
🔹 Kolaborasi Lintas Kategori
Parcel tidak selalu harus berisi makanan saja. Beberapa ide yang bisa dikembangkan:
- Hampers makanan + voucher layanan (laundry premium, kelas online, konsultasi)
- Hampers healthy + booklet resep atau panduan nutrisi
- Hampers UMKM + kartu cerita tentang produsen
Dengan pendekatan ini, parcel menjadi pengalaman, bukan sekadar produk fisik.
🔹 Kurasi Bertema
Kurasi membuat parcel memiliki identitas yang kuat, misalnya:
- Hampers “UMKM Lokal Nusantara”
- Hampers “Sehat dan Natural”
- Hampers “Kopi & Camilan Artisan”
- Hampers “Produk Handmade”
Ketika parcel memiliki tema, konsumen lebih mudah memahami nilai yang ditawarkan. Dalam daftar rekomendasi oleh-oleh Ramadan, banyak contoh produk yang bisa dikurasi secara tematik untuk membangun konsep lebih kuat.
5. Kemasan dan Storytelling Jadi Pembeda

Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)
Di pasar yang padat, visual memang penting. Namun kemasan tanpa cerita sering kali mudah dilupakan. Storytelling dapat dibangun dari berbagai aspek, misalnya:
- Asal Produk dan Kisah Produsen di Baliknya
Alih-alih hanya menuliskan “kue kering premium”, kamu bisa menyertakan kartu kecil yang menjelaskan bahwa kue tersebut diproduksi oleh usaha rumahan di Bogor yang sudah berjalan sejak 2012 dan memberdayakan ibu-ibu sekitar rumah produksi. Contoh narasi sederhana di dalam parcel:
“Kue nastar dalam paket ini diproduksi oleh UMKM keluarga yang telah beroperasi lebih dari 10 tahun dan mempekerjakan lima ibu rumah tangga di lingkungannya.”
Kalimat sederhana seperti ini memberi dimensi sosial dan emosional pada produk.
- Proses Produksi yang Higienis atau Handmade
Untuk konsumen yang peduli kualitas, kamu bisa menekankan proses. Misalnya:
“Seluruh cookies dipanggang dalam batch kecil setiap hari untuk menjaga kesegaran, tanpa bahan pengawet.”
Atau:
“Sambal kemasan dalam paket ini diolah secara handmade dengan standar dapur bersertifikasi halal.”
Detail seperti ini memperkuat persepsi kualitas dan keamanan, terutama untuk pasar keluarga dan korporasi.
- Nilai Sosial seperti Pemberdayaan UMKM Lokal
Jika parcel berisi produk kolaborasi beberapa UMKM, kamu bisa mengangkat konsep “Hampers Dukung UMKM Lokal”. Contohnya:
“Setiap produk dalam hampers ini berasal dari UMKM berbeda di Jawa Barat—mulai dari roaster kopi, produsen madu, hingga pembuat camilan tradisional.”
Konsumen merasa pembeliannya memiliki dampak lebih luas, bukan sekadar transaksi.
- Filosofi Kurasi Isi Parcel
Parcel juga bisa memiliki tema yang konsisten. Misalnya konsep “Hampers Sehat dan Natural”:
-
- Kurma tanpa tambahan gula
- Madu murni
- Granola homemade
- Teh herbal
Kamu bisa menuliskan:
“Paket ini dikurasi untuk menghadirkan pilihan camilan yang lebih seimbang saat berbuka, tanpa tambahan pengawet dan pewarna sintetis.” Atau konsep “Hampers Kopi Nusantara” dengan cerita singkat asal biji kopi dari daerah tertentu.
Pasar parcel Ramadan memang makin padat. Namun kepadatan bukan alasan untuk mundur. Justru di tengah persaingan, peluang untuk tampil lebih terarah semakin terbuka. Unggul bukan soal siapa paling murah. Bukan pula siapa paling cepat ikut tren. Unggul adalah tentang kejelasan posisi, ketepatan segmentasi, kesehatan struktur harga, serta keberanian berkolaborasi.
Ramadan bisa menjadi momentum bukan hanya untuk meningkatkan penjualan, tetapi untuk membangun reputasi dan jejaring yang bertahan lebih lama dari satu musim. Di pasar yang sesak, yang bertahan bukan yang paling ramai, melainkan yang paling strategis.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!









