
Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)
Sahabat Wirausaha,
digitalisasi pembayaran kini bukan lagi pilihan tambahan bagi pelaku usaha mikro, melainkan bagian dari ekosistem bisnis sehari-hari. QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) telah menjadi standar pembayaran nasional yang memudahkan transaksi lintas bank dan dompet digital. Namun dibalik kemudahan tersebut, muncul satu pertanyaan yang sering terdengar di lapangan: bagaimana dampak biaya MDR QRIS terhadap margin usaha?
Bagi sebagian pelaku UMKM, angka 0,3 persen terlihat kecil. Tetapi ketika dikaitkan dengan omzet bulanan dan margin bersih yang tipis, biaya tersebut bisa terasa signifikan. Kuncinya bukan pada besar atau kecilnya persentase, melainkan pada cara menghitung dan mengelolanya.
Memahami Struktur MDR QRIS Terbaru untuk UMKM
Sebelum berbicara soal strategi, pelaku usaha perlu memahami terlebih dahulu struktur resmi Merchant Discount Rate (MDR) QRIS yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Dalam ketentuan terbaru 2025, skema MDR untuk usaha mikro (UMI) adalah sebagai berikut:
- Transaksi sampai dengan Rp500.000 → MDR 0%
- Transaksi di atas Rp500.000 → MDR 0,3%
Sementara itu, untuk usaha kecil, menengah, dan besar (reguler), MDR ditetapkan sebesar 0,7%. Sektor pendidikan sebesar 0,6%, SPBU 0,4%, dan transaksi bantuan sosial atau kategori tertentu tetap 0%.
Artinya, tidak semua transaksi QRIS otomatis dikenakan biaya. Untuk usaha mikro, transaksi kecil bahkan dibebaskan dari MDR sebagai bentuk dukungan terhadap digitalisasi. Hal yang juga perlu ditegaskan: MDR ditanggung oleh merchant, bukan konsumen. Secara regulasi, biaya ini tidak boleh dibebankan langsung kepada pembeli.
Memahami aturan ini penting agar pelaku usaha tidak mengambil keputusan bisnis berdasarkan asumsi yang keliru.
Baca juga: QRIS Makin Mendunia, Isu Keamanan dan Biaya Admin Masih Dipertanyakan Publik
Menghitung Dampak MDR terhadap Margin Usaha
Setelah memahami strukturnya, langkah berikutnya adalah menghitung dampaknya secara konkret.
Misalnya, sebuah usaha kuliner mikro memiliki omzet Rp40 juta per bulan. Dari jumlah tersebut, Rp20 juta dibayar melalui QRIS, dengan rata-rata transaksi di atas Rp500.000 sehingga terkena MDR 0,3%.
Perhitungannya sederhana:
Rp20.000.000 × 0,3% = Rp60.000
Dalam sebulan, biaya MDR yang dibayarkan adalah Rp60.000.
Apakah angka itu besar? Tergantung margin usaha.
Jika margin bersih usaha tersebut sekitar 15%, maka dari omzet Rp40 juta, laba bersihnya sekitar Rp6 juta. Potongan Rp60.000 berarti sekitar 1% dari laba bersih.
Dalam skala kecil mungkin terasa ringan. Namun jika omzet QRIS meningkat menjadi Rp100 juta per bulan, maka:
Rp100.000.000 × 0,3% = Rp300.000
Di sinilah akumulasi mulai terasa.
Karena itu, penting bagi UMKM untuk tidak melihat 0,3% sebagai angka abstrak, tetapi menerjemahkannya ke dalam dampak riil terhadap laba bersih. Angka-angka tersebut sering kali memunculkan pertanyaan lanjutan di kalangan pelaku usaha: apakah potongan kecil ini layak dipertahankan demi kemudahan transaksi?
Kenyamanan Transaksi atau Profit Tanpa Potongan?
Di titik ini, muncul dilema yang lebih strategis: mana yang sebaiknya diutamakan pelaku UMKM—menerima pembayaran QRIS dengan potongan MDR, atau mendorong transaksi tunai agar margin tetap utuh?
Secara matematis, transaksi tunai memang tidak terkena potongan MDR. Margin terlihat lebih optimal. Namun pendekatan ini memiliki biaya tersembunyi.
Transaksi tunai meningkatkan risiko pengelolaan kas, potensi kesalahan hitung, hingga risiko keamanan penyimpanan uang fisik hingga uang palsu. Selain itu, preferensi konsumen kini semakin condong ke pembayaran digital. Tidak tersedianya QRIS bisa berdampak pada kenyamanan dan keputusan pembelian.
Dalam usaha dengan antrean tinggi seperti kuliner atau ritel cepat, pembayaran digital mempercepat transaksi. Efisiensi waktu dapat meningkatkan volume penjualan harian.
Ilustrasi sederhana:
Jika efisiensi pembayaran memungkinkan tambahan 20 transaksi per hari dengan rata-rata Rp25.000, tambahan omzet bisa mencapai Rp500.000 per hari. Dalam konteks ini, potongan MDR 0,3% menjadi relatif kecil dibanding kenaikan total penjualan.
Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar menghindari MDR, melainkan apakah QRIS membantu meningkatkan total pendapatan dan efisiensi usaha. Dalam ekonomi modern, keputusan bisnis jarang hitam-putih; ia selalu melibatkan trade-off antara efisiensi, risiko, dan pengalaman pelanggan.
Kesalahan Umum UMKM dalam Mengelola Biaya QRIS
Di lapangan, terdapat beberapa pola respons yang sering muncul ketika pelaku usaha menyadari adanya potongan MDR.
Pertama, langsung membebankan biaya tambahan kepada konsumen. Praktik ini sering dilakukan dengan menambahkan biaya administrasi saat pembayaran QRIS. Padahal, secara regulasi, MDR tidak boleh dialihkan kepada pembeli. Selain berisiko menimbulkan keluhan, langkah ini juga dapat mengurangi kepercayaan pelanggan.
Kedua, tidak memasukkan MDR dalam struktur biaya usaha. Banyak pelaku UMKM menghitung harga jual hanya berdasarkan bahan baku, tenaga kerja, dan sewa, tanpa memperhitungkan biaya transaksi digital.
Ketiga, tidak memisahkan pencatatan omzet tunai dan non-tunai. Tanpa pemisahan yang jelas, sulit mengevaluasi berapa besar biaya MDR sebenarnya dan apakah proporsinya masih sehat.
Kesalahan-kesalahan ini sering terjadi bukan karena kelalaian, melainkan karena kurangnya pemahaman akuntansi dasar dalam konteks pembayaran digital.
Baca juga: Ingin Bisnis Tumbuh Lebih Besar, Perlukah UMKM Menerapkan Strategi Berbagi Margin?
Strategi Cerdas Menyerap MDR Tanpa Menggerus Margin
Mengelola MDR bukan berarti menghindarinya, melainkan mengintegrasikannya secara strategis.
Pertama, lakukan penyesuaian costing. Jika sebagian besar transaksi sudah digital, maka biaya MDR perlu dimasukkan sebagai komponen biaya operasional. Kenaikan harga tidak harus signifikan; bahkan penyesuaian kecil pada harga jual seringkali sudah cukup untuk menyerap biaya tersebut.
Kedua, gunakan strategi pembulatan harga. Misalnya, harga produk Rp19.800 dapat dibulatkan menjadi Rp20.000. Selisih kecil seperti ini, jika dikalikan volume penjualan, dapat membantu menutup biaya MDR tanpa terasa membebani pelanggan.
Ketiga, fokus pada peningkatan volume transaksi. Dalam banyak kasus, kemudahan pembayaran digital justru meningkatkan frekuensi pembelian. Transaksi yang lebih cepat mengurangi antrean dan mempercepat perputaran pelanggan, terutama pada usaha ritel dan makanan.
Keempat, manfaatkan QRIS sebagai alat pencatatan otomatis. Riwayat transaksi yang tercatat rapi dapat membantu pelaku usaha memahami pola penjualan, jam ramai, hingga produk terlaris. Data ini bisa digunakan untuk strategi promosi yang lebih tepat sasaran.
Dengan pendekatan seperti ini, MDR tidak lagi dilihat sebagai beban semata, melainkan sebagai bagian dari biaya modernisasi usaha.
Dari Biaya ke Investasi: Mengubah Cara Pandang terhadap QRIS
Pada akhirnya, pertanyaan tentang MDR bukan sekadar soal potongan 0,3 persen. Ia berkaitan dengan bagaimana pelaku UMKM memandang digitalisasi.
QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga simbol formalitas usaha. Transaksi yang tercatat secara elektronik membangun rekam jejak keuangan yang lebih kredibel. Dalam jangka panjang, rekam jejak ini dapat membantu saat mengajukan pembiayaan ke perbankan atau lembaga keuangan lainnya.
Selain itu, kepercayaan pelanggan juga dipengaruhi oleh kemudahan dan profesionalisme sistem pembayaran. Usaha yang menyediakan metode pembayaran digital umumnya dipersepsikan lebih modern dan terpercaya.
Maka alih-alih bertanya apakah MDR mengurangi margin, mungkin pertanyaan yang lebih relevan adalah: sudahkah struktur harga dan strategi bisnis disesuaikan dengan realitas digital saat ini?
Biaya 0,3 persen mungkin kecil di atas kertas. Namun keputusan mengelolanya secara tepat dapat menjadi pembeda antara usaha yang sekadar mengikuti tren dan usaha yang benar-benar naik kelas.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Bank Indonesia. Cerita BI: MDR QRIS Bagi Merchant, Kategorisasi dan Simulasi. 2025. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/cerita-bi/Pages/mdr-qris.aspx
- Bank Indonesia. Peraturan dan Ketentuan Implementasi QRIS dalam Sistem Pembayaran. https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/sistem-pembayaran/ritel/kanal-layanan/qris









