
Halo Sahabat Wirausaha,
Dalam usaha peternakan rakyat, biaya pakan ternak bukan sekadar komponen pengeluaran rutin. Ia adalah fondasi struktur biaya sekaligus penentu arah keberlanjutan usaha. Pada usaha ayam broiler dan penggemukan ruminansia, pakan dapat menyumbang sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen dari total biaya produksi. Artinya, setiap kenaikan harga bahan baku akan langsung berdampak pada margin keuntungan.
Data statistik nasional menunjukkan harga produsen jagung sebagai bahan energi utama ransum mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Laporan komoditas pertanian pemerintah juga menegaskan bahwa jagung masih menjadi komponen dominan dalam formulasi pakan nasional. Ketika harga jagung naik, biaya pakan ternak ikut terdorong naik. Masalahnya, harga jual ternak tidak selalu bergerak secepat kenaikan biaya.
Di sinilah tekanan mulai terasa. Bagi usaha skala kecil dan menengah, selisih kecil dalam biaya bisa berarti besar dalam arus kas.
Struktur Biaya dan Dampaknya terhadap Laba Bersih
Mari kita lihat secara konkret.
Pada usaha ayam broiler skala 1.000 ekor, biaya pakan satu siklus bisa mencapai Rp25 juta. Jika harga bahan baku naik 10%, tambahan biaya mencapai sekitar Rp2,5 juta per siklus. Dalam 6 siklus setahun, tambahan beban bisa mendekati Rp15 juta.
Jika laba bersih awal per siklus hanya Rp5 juta, maka kenaikan biaya tersebut dapat memangkas hampir separuh keuntungan. Dalam situasi seperti ini, usaha tidak langsung rugi, tetapi ruang untuk berkembang menjadi sangat sempit.
Pada usaha kambing skala 40 ekor, biaya pakan ternak sekitar Rp3 juta per bulan. Kenaikan 10% berarti tambahan Rp300 ribu per bulan atau Rp3,6 juta per tahun. Dalam 5 tahun, selisih tersebut bisa mencapai Rp18 juta.
Angka ini cukup untuk membeli indukan baru atau memperbaiki kandang. Tanpa efisiensi, kesempatan itu hilang.
Baca juga: 7 Alasan Mengapa Tongkol Jagung Layak Dilihat Ulang sebagai Peluang Usaha UMKM
Ketergantungan Tinggi pada Komoditas Tunggal
Struktur pakan yang terlalu bergantung pada satu komoditas membuat usaha sangat sensitif terhadap gangguan pasokan. Jagung dipengaruhi oleh musim, distribusi, kebijakan perdagangan, hingga biaya logistik. Ketika satu komponen mendominasi ransum, maka setiap gangguan pada komponen tersebut langsung berdampak pada keseluruhan struktur biaya.
Dalam manajemen risiko usaha, diversifikasi bahan campuran menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi ketergantungan. Diversifikasi bukan berarti mengganti total bahan utama, melainkan mengurangi dominasi satu komponen dalam komposisi ransum. Pendekatan ini tidak radikal, tetapi realistis.
Kulit Pisang sebagai Alternatif Campuran
Indonesia termasuk salah satu produsen pisang terbesar di dunia. Berdasarkan laporan riset yang dirangkum CNBC Indonesia pada 2025, produksi pisang nasional menembus lebih dari 9 juta ton per tahun dan menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia setelah India dan China. Tingginya produksi ini tidak lepas dari kondisi agroklimat Indonesia yang mendukung. Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa pisang dapat tumbuh optimal di wilayah tropis dengan curah hujan cukup dan jenis tanah yang sesuai, kondisi yang banyak ditemukan di berbagai daerah Nusantara.
Besarnya produksi tersebut menandakan volume limbah kulit pisang juga sangat melimpah. Sebagian besar kulit pisang berakhir sebagai limbah rumah tangga maupun industri olahan, padahal secara komposisi kulit pisang mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, serat kasar, serta mineral seperti kalium dan kalsium. Kandungan proteinnya memang relatif rendah sehingga tidak dapat menjadi pakan tunggal, tetapi dalam proporsi tertentu dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran ransum.
Sejumlah penelitian peternakan menunjukkan bahwa proses fermentasi mampu meningkatkan kecernaan kulit pisang dibandingkan kondisi segar. Dengan pengolahan yang tepat dan formulasi yang terukur, pemanfaatan kulit pisang dapat membantu menekan biaya pakan ternak tanpa mengganggu keseimbangan nutrisi secara signifikan. Namun penggunaannya tetap perlu dikendalikan, karena proporsi yang berlebihan justru berisiko menurunkan performa ternak.
Baca juga: Peluang Bisnis Maggot Black Soldier Fly sebagai Pakan Ternak Berbiaya Rendah Ramah Lingkungan
Praktik Nyata di Lapangan
Pemanfaatan limbah kulit pisang bukan hanya wacana akademik. Salah satu contoh nyata dilakukan oleh peternak binaan BAZNAS Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dalam program pemberdayaan ekonomi yang mereka jalankan, kelompok peternak tersebut mengolah limbah kulit pisang menjadi campuran pakan domba. Inisiatif ini dilakukan untuk membantu menekan biaya operasional sekaligus memanfaatkan limbah lokal yang tersedia di sekitar wilayah usaha.
Program ini tidak mengubah total komposisi ransum, melainkan menjadikan kulit pisang sebagai bahan campuran dalam proporsi tertentu. Skalanya memang belum besar dan masih dalam lingkup pemberdayaan komunitas. Namun praktik ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut telah diterapkan dalam konteks nyata di tingkat peternak rakyat.
Artinya, opsi ini bukan eksperimen spekulatif. Ia sudah diuji dalam praktik, meskipun masih dalam skala terbatas dan tetap membutuhkan pengelolaan yang terukur.
Simulasi Penghematan Bersih: Skenario Limbah Gratis dan Limbah Berbayar
Untuk melihat dampaknya secara lebih realistis, simulasi berikut dibedakan menjadi dua kondisi: ketika limbah kulit pisang diperoleh gratis melalui kerja sama lokal, dan ketika limbah harus dibeli dengan harga murah.
-
Skenario 1: Limbah Gratis (Contoh Usaha Kambing)
Misalnya usaha kambing skala 40 ekor mampu menekan biaya pakan sebesar Rp350 ribu per bulan melalui substitusi parsial kulit pisang. Limbah diperoleh gratis dari pedagang pasar atau UMKM olahan, namun tetap ada biaya transportasi dan bahan fermentasi.
Jika biaya angkut dan pengolahan mencapai Rp250 ribu per bulan, maka penghematan bersih menjadi sekitar Rp100 ribu per bulan.
Dalam satu tahun, penghematan bersih mencapai Rp1,2 juta. Dalam lima tahun, nilainya sekitar Rp6 juta.
Angka ini memang tidak besar dalam jangka pendek, tetapi cukup untuk menambah satu ekor indukan atau memperbaiki fasilitas kandang secara bertahap.
-
Skenario 2: Limbah Dibeli Murah (Contoh Usaha Ayam Broiler)
Pada usaha ayam broiler skala 1.000 ekor, misalnya efisiensi awal dari substitusi parsial mencapai Rp2 juta per siklus. Namun limbah kulit pisang harus dibeli seharga Rp400 per kilogram dengan kebutuhan sekitar 300 kilogram per bulan, sehingga biaya pembelian mencapai Rp120 ribu. Ditambah biaya fermentasi dan pengolahan sekitar Rp100 ribu, total tambahan biaya sekitar Rp220 ribu per bulan atau sekitar Rp600 ribu per siklus.
Dengan tambahan biaya tersebut, penghematan bersih menjadi sekitar Rp1,4 juta per siklus. Jika dalam satu tahun terdapat 6 siklus, maka penghematan bersih mencapai sekitar Rp8,4 juta per tahun. Dalam lima tahun, nilainya mendekati Rp42 juta.
Dalam skala broiler, angka ini cukup signifikan untuk memperkuat arus kas atau mendukung ekspansi populasi.
Simulasi ini menunjukkan bahwa efisiensi tetap mungkin terjadi baik dalam skenario limbah gratis maupun berbayar. Namun besarnya manfaat sangat bergantung pada akses bahan baku, jarak distribusi, dan disiplin pengolahan. Strategi ini bukan tentang menghilangkan biaya, melainkan mengelola biaya secara lebih adaptif dan terukur.
Risiko Teknis dan Batasan Penggunaan
Meski potensial, pemanfaatan kulit pisang tetap memiliki risiko teknis. Kadar serat yang cukup tinggi perlu dikontrol agar tidak menurunkan efisiensi konversi pakan, terutama pada unggas. Proses fermentasi harus dilakukan secara higienis untuk mencegah pertumbuhan jamur dan kontaminasi.
Kajian internasional menunjukkan bahwa agro-industrial by-products, termasuk limbah buah seperti kulit pisang, memiliki karakter nutrisi yang berbeda dari pakan utama. Karena itu, penggunaan bahan tersebut harus disertai dengan formulasi ransum yang tepat agar tetap memenuhi kebutuhan energi dan protein ternak secara seimbang. Artinya, keputusan efisiensi harus tetap berbasis perhitungan. Efisiensi biaya pakan ternak tidak boleh mengorbankan kesehatan dan produktivitas ternak.
Perspektif Manajerial UMKM
Di balik persoalan teknis, ada dimensi manajerial yang lebih penting. Banyak pelaku usaha baru mengevaluasi struktur biaya ketika tekanan sudah terasa berat. Responsnya cenderung reaktif.
Dalam teori perilaku ekonomi, kecenderungan ini dikenal sebagai status quo bias, yaitu mempertahankan pola lama meskipun kondisi telah berubah. Padahal, evaluasi struktur biaya seharusnya menjadi rutinitas berkala.
Alternatif seperti pemanfaatan limbah kulit pisang seharusnya dipertimbangkan sebagai langkah preventif, bukan keputusan darurat. Naik kelas dalam berbisnis berarti mampu mengantisipasi perubahan sebelum tekanan datang.
Penutup
Biaya pakan ternak kemungkinan akan terus berfluktuasi mengikuti dinamika komoditas dan distribusi. UMKM yang bertahan bukan yang paling besar, tetapi yang paling adaptif dalam membaca struktur biaya dan mengelola risiko. Limbah kulit pisang bukan solusi instan. Namun praktik nyata dan kajian ilmiah menunjukkan bahwa ia dapat menjadi bagian dari strategi efisiensi berbasis sumber daya lokal.
Pada akhirnya, yang membedakan usaha stagnan dan usaha bertumbuh sering kali bukan pada besarnya modal, melainkan pada keputusan kecil yang diambil secara konsisten dan terukur.
Sahabat Wirausaha, ketika biaya pakan ternak terus naik, mungkin yang perlu diperbarui bukan hanya komposisi ransum, tetapi cara berpikir dalam mengelola usaha. Gimana, udah siap naik kelas?
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- CNBC Indonesia. (2025). 7 Negara Penghasil Pisang Terbesar di Dunia, RI Nomor Berapa?. https://www.cnbcindonesia.com/research/20250705145858-128-646544/7-negara-penghasil-pisang-terbesar-di-dunia-ri-nomor-berapa
- Food and Agriculture Organization (FAO). (n.d.). The feed resource base: Crop residues, agro-industrial by-products and non-conventional feed resources. https://www.fao.org/4/t0757e/T0757E05.htm
- Konten databoks.id. 2025. https://www.instagram.com/p/DJDf2bNyAKJ/?tm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==
- Peternak Binaan BAZNAS Olah Limbah Kulit Pisang Jadi Pakan.2024. https://baznas.go.id/baca-berita/peternak-binaan-baznas-olah-limbah-kulit-pisang-jadi-pakan-ternak/VUE0RFA2UmtuRHo1aWZuNWs3QUN1QT09









