Halo Sahabat Wirausaha,

Di Indonesia, manggis sering kita temui di pasar tradisional dengan harga yang relatif terjangkau. Namun di sejumlah negara empat musim, manggis ditempatkan di segmen ritel premium dan kerap disebut sebagai exotic luxury fruit. Di beberapa pasar, harga jualnya dapat mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta per kilogram, bergantung pada musim dan kualitas. Faktor iklim membuat manggis sulit dibudidayakan secara lokal, sehingga pasokannya bergantung pada impor dari negara tropis.

Fenomena ini menarik untuk dibedah. Mengapa manggis yang dianggap “biasa” di dalam negeri justru menjadi simbol kemewahan di negara empat musim? Dan bagaimana peluang ekspor manggis bisa dibaca sebagai strategi naik kelas bagi pelaku UMKM?

Artikel ini akan membahas manfaat buah dan kulit manggis, potensi ekspor manggis, serta insight strategis bagi Sahabat Wirausaha yang ingin masuk ke rantai nilai komoditas bernilai tinggi ini.


Manggis dan Julukan The Queen of Fruits

Manggis dikenal dengan julukan The Queen of Fruits. Julukan ini bukan tanpa alasan. Manggis tidak hanya menarik karena rasanya yang manis dan segar. Di pasar global, daya tariknya juga bertumpu pada kandungan antioksidan, khususnya senyawa xanthone yang banyak terdapat pada daging dan kulit buahnya.

Sejumlah publikasi kesehatan menjelaskan bahwa xanthone memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Namun manfaat tersebut perlu dipahami secara proporsional dan tidak dimaknai sebagai pengganti pengobatan medis. Dalam konteks konsumsi harian, manggis diposisikan sebagai bagian dari pola makan sehat yang membantu memenuhi kebutuhan antioksidan tubuh.

Di sinilah titik pentingnya bagi pelaku usaha. Tren global menunjukkan meningkatnya minat terhadap pangan fungsional (functional food) dan produk berbasis bahan alami. Buah yang memiliki narasi kandungan antioksidan cenderung lebih mudah masuk ke segmen pasar premium, terutama di negara dengan kesadaran kesehatan yang tinggi seperti Jepang dan Korea Selatan.

Artinya, nilai komersial manggis tidak hanya berasal dari rasanya, tetapi juga dari persepsi pasar terhadap manfaatnya. Persepsi inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi harga yang lebih tinggi dalam rantai ekspor manggis. Persepsi premium tersebut bukan berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan bahwa permintaan global terhadap manggis Indonesia memang mengalami peningkatan.

Baca Juga: Potensi Usaha Daun Ketapang yang Mulai Dilirik Pasar Ekspor Internasional


Ekspor Manggis Indonesia: Sentra Produksi, Tren Volume, dan Momentum Musiman

Indonesia termasuk salah satu produsen manggis terbesar di dunia, dengan sentra utama produksi tersebar di berbagai provinsi. Berdasarkan publikasi Kementerian Pertanian dalam Outlook Komoditas Pertanian Subsektor Hortikultura tahun 2023, produksi manggis terpusat di Sumatera Barat dan Jawa Barat, serta didukung oleh daerah lain seperti Sumatera Utara, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat. Sebaran sentra ini menunjukkan bahwa manggis bukan komoditas lokal terbatas, melainkan bagian dari sistem produksi hortikultura nasional.

Dari sisi kinerja ekspor, tren beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan volume yang konsisten. Berdasarkan data BPS, volume ekspor manggis tercatat sekitar 75.577 ton pada 2022, meningkat menjadi sekitar 112 ribu ton pada 2023, dan kembali naik pada 2024 hingga menembus sekitar 146 ribu ton. Kenaikan bertahap ini mencerminkan penguatan permintaan pasar internasional terhadap manggis Indonesia.

Sebagai komoditas hortikultura unggulan, manggis Indonesia tidak hanya dipasarkan sebagai buah konsumsi segar. Permintaannya juga datang dari industri pengolahan, termasuk bahan baku farmasi dan sediaan kosmetika di sejumlah negara Asia seperti Tiongkok, Hongkong, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Artinya, pasar manggis tidak hanya bergantung pada konsumsi langsung, tetapi juga pada rantai industri turunan.

Bagi UMKM, kata kunci “ekspor manggis” tidak selalu berarti harus menjadi eksportir langsung. Data produksi, tren volume, dan pola musiman memberi gambaran bahwa peluang terbuka di sepanjang rantai pasok—mulai dari budidaya di sentra produksi, penyortiran dan pengemasan sesuai standar, hingga pengolahan produk turunan yang memenuhi persyaratan pasar tujuan.

Momentum musiman turut memengaruhi dinamika ekspor manggis. Pada periode menjelang perayaan Imlek 2026 yang jatuh pada 17 Februari lalu, permintaan manggis dari Bali ke Tiongkok tercatat meningkat signifikan. Badan Karantina Indonesia melalui Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Bali menyertifikasi 79,5 ton manggis selama periode 1 Januari hingga 9 Februari 2026, atau meningkat sekitar 700 persen dibandingkan Desember 2025.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kalender budaya dan tradisi konsumsi di negara tujuan memiliki dampak langsung terhadap arus perdagangan. Bagi pelaku usaha, pola musiman semacam ini penting dipetakan sejak awal agar perencanaan panen, penyortiran, dan distribusi dapat dilakukan lebih terukur.


Dari Buah Segar ke Superfood Powder

Sumber Foto: www.rawganic-bali.com

Yang menarik, nilai manggis tidak berhenti pada buah segar. Kulit manggis, yang dulu sering dianggap limbah, kini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk premium.

Di pasar global, ekstrak manggis dipasarkan dalam bentuk:

  • Superfood powder
  • Minuman anti-aging
  • Suplemen kesehatan
  • Produk kecantikan berbasis antioksidan

Namun Sahabat Wirausaha perlu hati-hati. Berdasarkan referensi medis, klaim kesehatan tidak boleh berlebihan. Produk olahan manggis tetap harus memenuhi regulasi BPOM, standar keamanan pangan, serta tidak mengklaim sebagai obat.

Nilai tambah inilah yang membuat manggis disebut sebagai “Superfood” di mata global. Bukan karena label semata, tetapi karena ia masuk dalam tren pangan fungsional dan gaya hidup sehat.

Baca Juga: Peluang Bisnis Perkebunan Lada Putih yang Banyak Dicari Industri Kuliner dan Ekspor


Insight Strategis untuk UMKM

Lalu apa yang bisa dipetik oleh UMKM dari fenomena ini?

Bagi UMKM, pelajaran utamanya bukan sekadar soal harga tinggi, melainkan tentang bagaimana positioning dan standar kualitas membentuk nilai sebuah komoditas. Strateginya bukan instan, tetapi bertumpu pada konsistensi kualitas dan pemahaman pasar. Sahabat Wirausaha bisa mengambil beberapa pendekatan strategis:

  1. Fokus pada kualitas standar ekspor.
    Pasar luar negeri sangat ketat terhadap ukuran, tingkat kematangan, residu pestisida, hingga kemasan. UMKM yang ingin masuk rantai ekspor manggis perlu memahami standar ini.
  2. Diversifikasi produk turunan.
    Kulit manggis bisa diolah menjadi serbuk, teh herbal, atau bahan baku ekstrak. Tetapi prosesnya harus higienis dan berbasis izin edar yang sah.
  3. Bangun cerita produk.
    Di pasar premium, storytelling penting. Manggis dari kebun organik, praktik pertanian berkelanjutan, atau kemitraan petani lokal bisa menjadi nilai tambah.
  4. Manfaatkan momentum musiman.
    Permintaan melonjak saat momen tertentu seperti Imlek. UMKM bisa memetakan kalender ekspor untuk memaksimalkan harga jual.

Namun perlu diingat, masuk ke pasar ekspor manggis bukan tanpa risiko. Fluktuasi harga, standar karantina, serta perubahan regulasi negara tujuan bisa mempengaruhi arus perdagangan.

Baca Juga: Porang Pernah Jadi Primadona Ekspor, Masih Menjanjikan bagi UMKM Indonesia Saat Ini?


Biasa di Dalam Negeri, Premium di Luar Negeri

Tren kenaikan volume ekspor dalam tiga tahun terakhir memperlihatkan bahwa potensi manggis Indonesia tumbuh secara nyata. Di sinilah letak pelajarannya: sering kali kita menganggap suatu komoditas “biasa” hanya karena terlalu dekat dengannya.

Padahal, di pasar global, komoditas yang sama bisa diposisikan sebagai produk eksklusif dengan nilai tinggi. Perbedaan itu bukan karena buahnya berubah, tetapi karena strategi, persepsi, dan positioning pasar.

Pertanyaannya sekarang, apakah Sahabat Wirausaha ingin tetap melihat manggis sebagai buah musiman biasa, atau mulai membacanya sebagai peluang rantai nilai global?

Sebagai pelaku UMKM, tugas kita bukan hanya memproduksi, tetapi juga membaca arah pasar. Manggis sudah menunjukkan sinyalnya. Tinggal bagaimana kita meresponnya dengan strategi yang logis dan terukur.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Daftar Referensi:

  1. Alodokter, 2023, Klaim Manfaat Kulit Manggis dan Kebenarannya,
    https://www.alodokter.com/klaim-manfaat-kulit-manggis-dan-kebenarannya
  2. Badan Karantina Indonesia, 2024, Jelang Imlek Ekspor Manggis Bali ke Tiongkok Meningkat Signifikan,
    https://karantinaindonesia.go.id/berita/jelang-imlek-ekspor-manggis-bali-ke-tiongkok-meningkat-signifikan
  3. Halodoc, 2023, Apa Saja Manfaat Mengonsumsi Buah Manggis?,
    https://www.halodoc.com/artikel/apa-saja-manfaat-mengonsumsi-buah-manggis
  4. Kementerian Pertanian, 2022, Outlook Komoditas Pertanian Subsektor Hortikultura,
    https://epublikasi.pertanian.go.id/index.php/pertanianpress/catalog/book/29
  5. Infarm.id, 2026, Unggahan tentang manggis dianggap sebagai exotic luxury fruit, Instagram, https://www.instagram.com/p/DUnOWWGgZAx/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ== 
  6. Kementerianpertanian, 2025, Unggahan tentang Si Ratu Buah yang Laris di Pasar Ekspor, Instagram, https://www.instagram.com/p/DJOVCa9zoFF/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==