
Halo, Sahabat Wirausaha!
Beberapa tahun lalu, porang disebut-sebut sebagai “emas baru” pertanian Indonesia. Harga melonjak, ekspor meningkat tajam, dan banyak petani maupun pelaku UMKM berbondong-bondong masuk ke komoditas ini. Namun setelah euforia mereda, muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah porang masih menjanjikan, atau hanya komoditas musiman yang sempat viral?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat data, memahami siklus pasar, dan membaca posisi UMKM dalam rantai nilai porang saat ini.
Lonjakan Ekspor: Fakta di Balik Hype
Porang (Amorphophallus muelleri) mulai melonjak sejak 2020 ketika permintaan global terhadap glukomanan meningkat tajam. Umbi porang dikenal memiliki kandungan glukomanan yang tinggi. Glukomanan merupakan serat larut air yang banyak digunakan dalam industri pangan sehat, seperti mie shirataki dan konnyaku, serta sebagai bahan pengental alami dalam berbagai produk diet rendah kalori.
Lonjakan kebutuhan glukomanan global—terutama dari China dan Jepang—mendorong kenaikan permintaan bahan baku. Indonesia sebagai salah satu habitat alami porang menjadi pemasok penting.
Berdasarkan publikasi Kementerian Pertanian dan statistik perdagangan luar negeri, pada 2020 nilai ekspor porang Indonesia mencapai sekitar Rp 923 miliar dengan volume lebih dari 20 ribu ton. Ekspor dilakukan dalam bentuk chip (serpih kering) dan tepung.
Chip porang bukanlah keripik siap konsumsi, melainkan umbi yang telah diiris tipis dan dikeringkan hingga kadar airnya rendah. Bentuk serpih kering ini lebih tahan lama, lebih ringan, dan lebih efisien untuk pengiriman dibanding umbi segar. Dari chip inilah kemudian dihasilkan tepung glukomanan sebagai bahan baku industri pangan, farmasi, hingga kosmetik.
Menariknya, sebelum hype mencapai puncaknya, porang sebenarnya sudah memiliki jejak perdagangan internasional. Pada 2019, nilai ekspor tercatat sekitar USD 16,3 juta. Artinya, komoditas ini memang telah memiliki basis pasar sebelum menjadi sorotan luas.
Pada 2021, pemerintah mempertegas larangan ekspor umbi porang mentah untuk mendorong hilirisasi di dalam negeri. Meskipun ekspor chip dan tepung sudah berlangsung sebelumnya, kebijakan ini bertujuan agar nilai tambah lebih banyak dihasilkan di Indonesia dan tidak lagi bergantung pada penjualan bahan mentah.
Fase inilah yang kemudian menciptakan persepsi bahwa porang adalah komoditas dengan potensi tak terbatas.
Baca juga: Manfaat Daun Pegagan Ramai Dicari, Bisakah Jadi Peluang Bisnis untuk UMKM?
Setelah Hype: Siklus Komoditas dan Realitas Pasar
Seperti banyak komoditas agribisnis lainnya, porang juga mengalami siklus. Setelah lonjakan tajam pada 2020–2021, pasar mulai memasuki fase penyesuaian. Harga yang sempat tinggi perlahan terkoreksi seiring meningkatnya pasokan dan normalisasi permintaan. Namun koreksi bukan berarti hilang.
Data 2023 hingga 2025 menunjukkan bahwa ekspor porang tetap berjalan, meski tidak lagi dalam atmosfer euforia. Beberapa daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah masih mencatat pengiriman serpih dan tepung porang dalam jumlah signifikan. Artinya, pasar tetap ada—hanya lebih selektif.
Fase ini justru menjadi penyaring alami. Pelaku yang masuk hanya karena harga tinggi cenderung kesulitan bertahan ketika pasar terkoreksi. Sebaliknya, pelaku yang memiliki struktur usaha jelas—akses pembeli tetap, kemampuan pengolahan, dan manajemen biaya—lebih mampu bertahan.
Dalam konteks ekonomi komoditas, porang telah bergerak dari fase spekulatif menuju fase konsolidasi.
Peluang Nyata bagi UMKM: Di Mana Posisi yang Rasional?
Pertanyaan kuncinya bukan lagi “apakah porang laku?”, melainkan “di posisi mana UMKM masuk dalam rantai nilainya?”
Dalam rantai nilai porang terdapat beberapa level:
- Budidaya umbi. Di tahap ini, pelaku usaha berfokus pada penanaman dan panen. Model ini relatif paling mudah dimasuki, tetapi juga paling sensitif terhadap fluktuasi harga. Ketika harga global naik, petani menikmati margin yang tinggi. Namun saat terjadi koreksi pasar, posisi tawar cenderung lemah karena produk yang dijual masih berupa bahan mentah.
- Produksi chip (serpih kering). Pada tahap ini, umbi tidak langsung dijual, melainkan diproses terlebih dahulu melalui pengupasan, pengirisan, dan pengeringan. Proses sederhana ini sudah menciptakan nilai tambah karena meningkatkan daya simpan, menurunkan biaya logistik, dan memenuhi standar ekspor tertentu. Pelaku yang berada di tahap ini umumnya memiliki posisi tawar lebih baik dibanding penjual umbi mentah.
- Produksi tepung. Di sini, proses pengolahan menjadi lebih teknis karena melibatkan penggilingan dan pemurnian kandungan glukomanan. Margin pada tahap ini relatif lebih stabil karena produk yang dijual bukan lagi bahan mentah, melainkan bahan baku industri. Namun konsekuensinya adalah kebutuhan investasi mesin, standar mutu, dan akses pasar yang lebih kompleks.
- Tahap paling hilir adalah pengembangan produk turunan seperti mie shirataki, bahan pangan diet, atau bahan campuran industri pangan sehat. Di level ini, UMKM tidak hanya menjual bahan baku, tetapi menjual produk siap konsumsi atau semi-industri dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi. Risiko fluktuasi harga komoditas menjadi lebih kecil karena yang dijual adalah merek dan produk akhir.
Dari sini terlihat bahwa nilai tambah terbesar memang berada pada tahap pengolahan dan produk turunan. UMKM yang hanya menjual umbi mentah sangat bergantung pada dinamika harga global. Sebaliknya, pelaku yang masuk ke tahap chip, tepung, atau produk olahan memiliki struktur usaha yang lebih tahan terhadap koreksi pasar.
Karena itu, hilirisasi bukan sekadar kebijakan pemerintah untuk meningkatkan devisa. Bagi UMKM, hilirisasi adalah strategi perlindungan risiko. Semakin dekat posisi usaha ke produk akhir, semakin kecil ketergantungan terhadap volatilitas harga komoditas mentah.
Baca juga: Biaya Pakan Ternak Terus Naik, Limbah Kulit Pisang Bisa Jadi Solusi bagi UMKM
Pelajaran bagi UMKM Indonesia
Fenomena porang memberikan pelajaran penting bagi UMKM agribisnis di Indonesia.
Pertama, harga tinggi bukan jaminan permanen. Dalam komoditas ekspor, harga sangat dipengaruhi dinamika global. Ketika harga melonjak, banyak pelaku tergoda masuk tanpa menghitung siklus. Padahal harga cenderung kembali ke titik keseimbangan.
Kedua, euforia pasar tidak sama dengan keberlanjutan usaha. Momentum viral menciptakan persepsi bahwa komoditas akan terus naik. Namun keberlanjutan ditentukan oleh efisiensi biaya, akses pasar stabil, dan kemampuan bertahan saat margin menyempit.
Ketiga, hilirisasi lebih strategis dibanding sekadar meningkatkan volume produksi. Dalam rantai nilai porang, nilai tambah terbesar tidak berada di budidaya semata, tetapi pada proses pengolahan.
Keempat, diversifikasi adalah perlindungan risiko. Ketergantungan pada satu komoditas atau satu pasar meningkatkan kerentanan.
UMKM yang benar-benar naik kelas bukan yang paling cepat masuk saat harga tinggi, melainkan yang mampu membaca siklus dan membangun struktur usaha yang tahan terhadap perubahan pasar.
Baca juga: Okra Superfood Global: Strategi Naik Kelas dan Nilai Tambah UMKM Indonesia
Jadi, Masih Menjanjikan atau Tidak?
Jawabannya: masih, tetapi dengan pendekatan yang berbeda.
Porang tidak lagi berada di fase ledakan harga, tetapi berada pada fase seleksi dan konsolidasi. Permintaan glukomanan global tetap ada, terutama untuk industri pangan sehat dan farmasi. Namun persaingan kualitas dan standar ekspor semakin ketat.
Bagi UMKM, porang bukan lagi peluang instan, melainkan peluang strategis jangka menengah. Kunci keberhasilannya ada pada:
- Perhitungan siklus pasar
- Masuk ke tahap hilirisasi
- Manajemen risiko
- Diversifikasi usaha
Meski masih menjanjikan, porang tetap memiliki risiko:
- Ketergantungan pada pasar China
- Fluktuasi harga global
- Standar mutu ekspor yang ketat
- Siklus panen yang tidak cepat
UMKM yang masuk tanpa perhitungan siklus berisiko terjebak pada fase harga rendah. Karena itu, pendekatan rasional jauh lebih penting dibanding mengikuti tren.
Bagi pelaku usaha yang mampu melihat peluang secara rasional, menghitung risiko, dan masuk ke tahap hilirisasi yang lebih strategis, porang masih memiliki ruang. Namun bagi yang hanya mengikuti tren tanpa perencanaan, fase koreksi pasar bisa terasa berat.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah porang masih menjanjikan, melainkan apakah struktur usaha kita sudah cukup siap menghadapi siklusnya. Di situlah letak perbedaan antara sekadar ikut tren dan benar-benar membangun bisnis yang berkelanjutan.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Badan Pusat Statistik. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia.
- Kementerian Pertanian RI. Publikasi dan rilis data ekspor komoditas porang.









