Halo Sahabat Wirausaha,

Di banyak sentra padi, jerami masih sering dipandang sebagai sisa panen. Setelah gabah diangkut, yang tertinggal adalah batang kering yang nilainya terasa kecil. Tidak jarang ia dibakar atau dibiarkan membusuk. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang rantai nilai, jerami merupakan hasil samping dari salah satu komoditas pangan terbesar di Indonesia.

Artinya, selama produksi padi terus berlangsung, pasokan jerami akan selalu tersedia. Di sinilah perspektif bisnis mulai berubah. Apa yang selama ini dianggap “volume besar, nilai kecil” bisa naik kelas ketika diberi standar mutu, bentuk produk yang jelas, dan kanal pasar yang tepat. Bagi pelaku usaha di sekitar sentra padi, ini membuka ruang Peluang Bisnis UMKM yang berbasis sumber daya lokal dan bersifat berulang setiap musim panen.

Namun sebelum berbicara jauh tentang ekspor, kita perlu memahami dulu skala potensinya secara nasional.


Skala Potensi Jerami Nasional

Produksi padi Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG). Secara teknis, satu ton gabah dapat menghasilkan sekitar 1,5 ton jerami kering. Jika dihitung secara indikatif, potensi jerami teoretis Indonesia bisa mendekati 90 juta ton per tahun.

Angka tersebut memang bukan angka yang sepenuhnya terkumpul secara riil, karena sebagian jerami digunakan untuk pakan lokal, kompos, atau tidak terangkut maksimal. Namun data ini memberi gambaran bahwa bahan bakunya sangat melimpah.

Sentra produksi seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan memiliki peluang menjadi basis pengembangan Peluang Bisnis UMKM berbasis jerami. Tantangan utamanya bukan pada ketersediaan, melainkan pada pengumpulan yang efisien, pengeringan yang konsisten, serta pengendalian mutu.


Produk Turunan: Jerami Dijual dalam Bentuk Apa?

Agar memiliki nilai ekonomi, jerami tidak bisa dijual dalam kondisi sembarangan. Ia perlu diolah dalam bentuk yang sesuai kebutuhan pasar.

1. Bale Jerami Kering

Bentuk paling dasar adalah bale atau gelondong jerami kering untuk pakan dan alas kandang. Kualitas jerami sangat ditentukan oleh fase panen, proses pengeringan, serta kadar air saat dibaling.

Sebagai acuan teknis:

  • Bale kecil rectangular umumnya ≤18% kadar air
  • Bale bulat besar sekitar 14–16%
  • Bale kotak besar 12–14%

Pengendalian kadar air ini penting untuk menjaga stabilitas mutu sekaligus mencegah risiko kebakaran saat penyimpanan. Untuk UMKM pemula, model bale merupakan pintu masuk paling realistis dalam mengembangkan Peluang Bisnis UMKM berbasis jerami.

2. Pakan Fermentasi

Untuk pasar domestik, jerami dapat difermentasi menjadi pakan alternatif. Model ini cocok dikembangkan di sekitar kantong peternakan karena sifatnya yang bulky dan sensitif terhadap biaya logistik.

Selain memberi nilai tambah, proses fermentasi melatih pelaku usaha dalam pencacahan seragam, kontrol kelembapan, dan pencatatan produksi—fondasi penting sebelum masuk ke pasar yang lebih besar.

3. Pelet dan Briket Biomassa

Masalah utama jerami adalah densitasnya yang rendah. Ongkos kirim menjadi mahal karena volumenya besar. Densifikasi melalui proses peletisasi dapat meningkatkan bulk density hingga kisaran 600–800 kg/m³, sehingga lebih efisien dalam penyimpanan dan pengiriman.

Bentuk pelet atau briket ini membuka ruang Peluang Ekspor UMKM karena lebih stabil secara logistik dan lebih mudah memenuhi standar perdagangan internasional dibanding jerami lepas.

4. Bahan Baku Industri Hilir

Jerami juga dapat diolah menjadi bioetanol melalui proses hidrolisis, fermentasi, dan distilasi. Inovasi lain seperti pirolisis menghasilkan bio-oil dan arang sebagai sumber energi alternatif.

Namun pada tahap ini, posisi paling realistis bagi UMKM adalah sebagai pemasok bahan baku terspesifikasi, bukan pelaku hilirisasi penuh. Kemitraan dengan industri atau lembaga riset menjadi strategi yang lebih aman dalam memanfaatkan Peluang Bisnis UMKM di level ini.

Baca juga: Manggis Jadi Primadona Superfood Global, Ekspor Manggis Indonesia Kian Bernilai Tinggi


Pasar Ekspor: Realistis dan Berbasis Regulasi

Jika ingin membangun Peluang Ekspor UMKM, langkah pertama bukan langsung kirim barang, tetapi menyaring negara tujuan yang realistis.

Secara global, jerami dan limbah serealia banyak diimpor oleh negara-negara yang memiliki keterbatasan lahan hijauan pakan. Kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, dan Kuwait dikenal bergantung pada impor bahan pakan dan biomassa.

Namun tidak semua negara cocok untuk jerami padi Indonesia. Beberapa negara menerapkan pembatasan ketat terhadap rice straw karena alasan karantina dan risiko organisme pengganggu tumbuhan. Artinya, sebelum menargetkan pasar tertentu, pelaku usaha perlu mengecek regulasi impor negara tujuan.

Bagi UMKM, pendekatan yang lebih aman adalah:

  1. Memastikan jerami bersih dari tanah dan kontaminan
  2. Mengendalikan kadar air sesuai standar
  3. Mempersiapkan dokumen ekspor sejak awal

Secara umum, dokumen yang dibutuhkan meliputi:

  • Sertifikat fitosanitari
  • Invoice dan packing list
  • Bill of Lading
  • Certificate of Origin (jika dipersyaratkan)

Sertifikat fitosanitari menjadi dokumen penting karena menyatakan bahwa komoditas telah diperiksa dan bebas dari organisme pengganggu tumbuhan. Tanpa dokumen ini, risiko penolakan di pelabuhan tujuan cukup besar.

Di titik inilah disiplin mutu menjadi pembeda. Peluang Ekspor UMKM bukan hanya soal permintaan pasar, tetapi soal konsistensi kualitas dan kepatuhan regulasi.

Pelajari kursus seputar strategi dan tips Ekspor Global, gratis disini


Risiko yang Perlu Dikelola Sebelum Masuk Skala Besar

Jerami memang melimpah, tetapi bisnisnya bukan tanpa tantangan. Jika tidak dihitung sejak awal, potensi kerugian bisa lebih besar daripada peluangnya.

1. Fluktuasi Kualitas Saat Musim Hujan

Jerami sangat bergantung pada cuaca saat panen dan pengeringan. Pada musim hujan, kadar air sulit dikontrol. Jerami yang tampak kering di permukaan bisa menyimpan kelembapan di bagian dalam.

Dampaknya bukan hanya penurunan kualitas pakan, tetapi juga risiko jamur dan pembusukan selama penyimpanan. Untuk pasar ekspor, kadar air yang tidak stabil dapat menjadi alasan penolakan.

Artinya, pelaku usaha perlu mempertimbangkan jadwal panen, metode pengeringan tambahan, atau sistem penyimpanan tertutup sebelum membangun volume besar.

2. Kontaminasi Tanah dan Batu Kecil

Jerami yang dikumpulkan langsung dari sawah sering tercampur tanah, pasir, atau sisa akar. Untuk pasar lokal, hal ini mungkin masih bisa ditoleransi. Namun dalam perdagangan lintas negara, kontaminasi sekecil apapun dapat memicu pemeriksaan ulang bahkan penolakan karantina.

Di sinilah pentingnya proses sortasi dan kebersihan sejak awal. Standar ekspor tidak hanya melihat bentuk produk, tetapi juga kebersihan fisik dan potensi organisme pengganggu. 

Tanpa disiplin ini, Peluang Ekspor UMKM bisa berhenti di tahap uji coba pertama.

3. Biaya Logistik yang Tidak Efisien

Jerami memiliki densitas rendah. Artinya, satu kontainer bisa cepat penuh sebelum berat maksimal tercapai. Jika dijual dalam bentuk lepas atau bale longgar, ongkos kirim per kilogram menjadi tinggi.

Inilah mengapa densifikasi seperti pelet atau bale padat sering menjadi solusi. Tanpa perhitungan logistik yang matang, margin usaha bisa tergerus oleh biaya pengiriman.

Bagi pelaku usaha, penting menghitung: apakah jarak ke pelabuhan, biaya trucking, dan biaya stuffing masih masuk akal dibanding harga jual.

4. Risiko Kebakaran pada Bale Besar

Jerami dengan kadar air terlalu tinggi dapat mengalami pemanasan internal saat disimpan dalam volume besar. Pada kondisi tertentu, hal ini berpotensi memicu kebakaran spontan.

Risiko ini sering diabaikan karena jerami dianggap “bahan kering biasa”. Padahal dalam gudang tertutup dengan ventilasi kurang baik, suhu dapat meningkat secara signifikan.

Karena itu, pengukuran kadar air sebelum penyimpanan bukan sekadar standar mutu, tetapi bagian dari manajemen risiko usaha.

Keempat tantangan ini bukan alasan untuk mundur. Justru di sinilah pembeda antara usaha musiman dan usaha berkelanjutan.


Dari Pasar Lokal Menuju Global

Jerami mengajarkan satu hal penting: nilai ekonomi sering tersembunyi pada apa yang kita anggap biasa. Indonesia tidak kekurangan bahan baku. Tantangannya adalah bagaimana mengelola, menstandarkan, dan memetakan pasarnya dengan tepat.

Strategi paling realistis adalah bertahap. Tahap awal fokus pada pasar domestik dengan bale atau pakan fermentasi. Tahap menengah mulai mengeksplorasi pelet atau briket untuk efisiensi logistik. Tahap lanjut, membangun kemitraan dan mempersiapkan dokumen ekspor.

Dengan pendekatan ini, Peluang Ekspor UMKM tidak dibangun secara instan, tetapi melalui fondasi mutu, volume stabil, dan manajemen risiko yang disiplin.

Bagi Sahabat Wirausaha di sentra padi, jerami bukan lagi sekadar residu. Ia bisa menjadi titik masuk ke rantai nilai yang lebih luas—dari pakan lokal hingga pasar ekspor.

Pertanyaannya kini bukan apakah jerami tersedia, tetapi apakah kamu siap mengelolanya sebagai komoditas yang terstandar dan berkelanjutan?

Daftar Referensi: 

  1. Agriculture Victoria. 2023. Quality Hay and How to Get It.
    https://agriculture.vic.gov.au/farm-management/land-and-pasture-management/quality-hay-and-how-to-get-it
  2. detikFinance. 2025. Dari Sawah ke Botol Parfum, Jerami Padi Jadi Peluang Ekonomi Hijau.
    https://finance.detik.com/energi/d-8205432/dari-sawah-ke-botol-parfum-jerami-padi-jadi-peluang-ekonomi-hijau
  3. ANTARA Lampung. 2023. Bisnis Jerami Menggiurkan, Mampu Hasilkan Keuntungan Rp5,9 Miliar.
    https://lampung.antaranews.com/berita/368328/bisnis-jerami-menggiurkan-mampu-hasilkan-keuntungan-rp59-miliar
  4. Asy-Syirkah Indonesia. 2024. Jerami Jadi Bahan Bakar Inovasi BRIN.
    https://asysyirkah.id/jerami-jadi-bahan-bakar-inovasi-brin/

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia dibawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!