
Sahabat Wirausaha, mungkin kamu sudah mendengar atau bahkan ikut meramaikan perbincangan soal Burger Aldi Taher yang viral beberapa waktu lalu. Musisi sekaligus entertainer Aldi Taher meluncurkan bisnis burger dengan pernyataan yang mengundang tawa sekaligus tanda tanya: "semua burger milik Allah." Kalimat itu beredar luas di media sosial, diperdebatkan, ditertawakan, diviralkan — dan yang terjadi kemudian adalah antrean panjang di depan gerai burgernya.
Prof. Rhenald Kasali, guru besar manajemen Universitas Indonesia yang kerap mengamati dinamika bisnis digital, menyebut fenomena ini sangat menarik karena berkaitan erat dengan attention economy. Dalam konten Instagram-nya, beliau menyoroti bagaimana perhatian publik — bukan semata kualitas produk — bisa menjadi mesin penggerak bisnis di era digital. Pertanyaannya bagi kamu sebagai pelaku UMKM: apakah pelajaran dari fenomena ini bisa diadaptasi secara strategis, tanpa harus kontroversi demi kontroversi?
Apa Itu Attention Economy dan Mengapa Relevan untuk UMKM?
Attention economy adalah konsep yang pertama kali dipopulerkan oleh ekonom Herbert Simon dan dikembangkan lebih lanjut oleh Michael Goldhaber pada akhir 1990-an. Premisnya sederhana: di era informasi yang berlimpah, sumber daya yang justru paling langka adalah perhatian manusia. Siapa pun — individu, merek, media, bisnis kecil sekalipun — yang mampu merebut dan mempertahankan perhatian, akan memiliki keunggulan ekonomi yang nyata.
Bagi UMKM, ini relevan karena satu alasan mendasar: kamu bersaing di ruang yang sama dengan merek-merek besar, namun dengan anggaran yang jauh lebih terbatas. Di sinilah attention economy menawarkan peluang asimetris — ketika perhatian bisa diraih bukan dengan uang, melainkan dengan narasi yang tepat di momen yang tepat.
Berdasarkan laporan Digital 2024, pengguna media sosial Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari 4 jam per hari di platform digital — salah satu angka tertinggi di Asia Tenggara dengan media sosial menjadi kanal konsumsi informasi utama. Dalam ekosistem seperti ini, satu konten yang berhasil merebut perhatian bisa setara dengan iklan jutaan rupiah — bahkan lebih efektif, karena bersifat organik dan dipercaya oleh audiens.
Baca juga: Seni Bercerita untuk UMKM: Strategi Membangun Brand dan Bersaing di Pasar Digital
Membedah Mekanisme Viral Aldi Taher
Kasus Aldi Taher bukan keberuntungan semata. Bila kamu perhatikan lebih dalam, ada beberapa elemen strategis yang bekerja secara bersamaan:
Pertama, kejutan kognitif (cognitive disruption). Pernyataan "semua burger milik Allah" tidak mengikuti pola komunikasi bisnis yang lazim. Otak manusia secara naluriah memproses sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi — dan meneruskannya ke orang lain. Inilah yang dalam psikologi sosial disebut incongruity theory, salah satu mekanisme dasar penyebaran konten viral.
Kedua, personal brand yang sudah terbangun. Aldi Taher bukan orang baru. Ia sudah punya basis audiens yang familier dengan gaya komunikasinya yang lugas dan tak terduga. Viralitas burgernya tidak berdiri sendiri — ia berdiri di atas ekuitas personal brand yang sudah diakumulasi bertahun-tahun. Ini poin penting yang sering luput dari analisis.
Ketiga, produk yang deliverable. Viralitas tanpa produk yang bisa dieksekusi hanya menghasilkan keributan sesaat. Burger Aldi Taher punya gerai fisik, bisa dipesan, bisa difoto, bisa di-review. Perhatian berhasil dikonversi menjadi transaksi karena ada entry point yang jelas bagi konsumen.
Apa yang Bisa Diterapkan UMKM?

Sebelum kamu berpikir untuk membuat pernyataan kontroversial demi meniru strategi ini, ada hal yang perlu diluruskan: bukan kontroversinya yang bisa ditiru, melainkan prinsip di baliknya.
Berikut beberapa pendekatan yang lebih terukur dan relevan untuk UMKM:
- Bangun narasi yang autentik dan spesifik. Produk kamu punya cerita. Dari mana bahan bakunya? Siapa yang membuatnya? Apa yang membuatnya berbeda? Narasi yang jujur dan spesifik jauh lebih kuat daripada klaim generik seperti "produk terbaik" atau "rasa terenak." Konsumen digital saat ini sangat terlatih mendeteksi klaim kosong.
- Gunakan elemen kejutan yang relevan dengan nilai brandmu. Kejutan tidak harus kontroversial. Sebuah UMKM es krim yang mengumumkan varian rasa nasi goreng kampung, atau warung makan yang menampilkan proses masak di depan kamera secara apa adanya, bisa sama-sama memancing rasa ingin tahu. Yang penting adalah incongruity yang relevan — bukan sembarangan.
- Optimalkan momen, bukan hanya konten. Aldi Taher memanfaatkan momen peluncuran produk untuk menciptakan narasi yang bisa diperdebatkan. Kamu pun bisa merancang momen bernilai berita di sekitar bisnis kamu: ulang tahun usaha, milestone pertama, kolaborasi unik, atau bahkan proses kegagalan yang dijadikan cerita bangkit.
- Perhatian harus berujung pada konversi yang terstruktur. Viralitas tanpa sistem penjualan yang siap adalah pemborosan perhatian. Pastikan ketika lonjakan perhatian terjadi, kamu sudah punya: stok yang cukup, kanal pemesanan yang mudah diakses, dan tim yang siap merespons. Banyak UMKM yang viral tapi kehilangan momentum karena sistem operasionalnya belum siap.
Baca juga: Konten Digital Trending vs Evergreen: Mana yang Lebih Efektif Memperkuat Branding Bisnis UMKM?
Risiko yang Perlu Kamu Pertimbangkan
Strategi berbasis perhatian bukan tanpa risiko. Ada beberapa hal yang perlu kamu waspadai:
Viralitas bersifat sementara. Gelombang perhatian publik bergerak cepat. Jika kamu tidak segera mengkonversi perhatian menjadi pelanggan setia dan membangun loyalty loop, bisnis kamu hanya akan dikenang sebagai "yang pernah viral." Retention jauh lebih penting daripada acquisition dalam jangka panjang.
Kontroversi bisa berbalik arah. Tidak semua narasi yang memancing respons emosional berujung positif. Jika pernyataan atau konten kamu menyentuh isu sensitif — agama, politik, atau kelompok tertentu — risiko reputasi bisa jauh melampaui manfaat viralitasnya. Kasus-kasus cancel culture terhadap UMKM kecil pun sudah ada presedennya di Indonesia.
Kualitas produk tetap fondasi utama. Perhatian bisa mendatangkan pelanggan pertama, tetapi kualitas produk yang menentukan apakah mereka kembali. Investasi pada pengalaman produk harus berjalan seiring dengan investasi pada narasi.
Apakah Semua Perhatian Diciptakan Sama?
Ada pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar "bagaimana cara viral" — yaitu: perhatian seperti apa yang ingin kamu bangun?
Prof. Rhenald Kasali menyebut attention economy sebagai sesuatu yang menarik, bukan sekadar karena fenomena Aldi Taher lucu atau menghibur. Yang lebih substansial adalah bagaimana perhatian — jika dikelola dengan strategi yang tepat — bisa menjadi aset bisnis yang terukur.
Untuk kamu sebagai pelaku UMKM, pertanyaannya bukan "bagaimana saya bisa viral?" melainkan: "Apa cerita autentik yang saya miliki, dan siapa yang perlu mendengarnya?" Viralitas yang tumbuh dari kejujuran dan keunikan produk cenderung lebih tahan lama dibandingkan viralitas yang ditopang oleh kejutan semata.
Di era attention economy, siapa yang berhasil menjadi bagian dari percakapan yang bermakna — bukan sekadar kebisingan — itulah yang punya keunggulan kompetitif jangka panjang. Bagaimana Sahabat Wirausaha, udah mulai berpikir?
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM—yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!









