Sahabat Wirausaha, ada fakta yang layak kamu cermati: dari 50 miliarder teratas Indonesia versi Forbes Indonesia's 50 Richest 2025, hanya lima di antaranya adalah perempuan — sekitar 10 persen. Angka itu mungkin terdengar kecil, namun dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat empat perempuan (8 persen), trennya bergerak ke arah yang lebih inklusif. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah siapa mereka, dari sektor mana kekayaan mereka dibangun, dan pola apa yang bisa kamu pelajari sebagai pelaku usaha.

Berdasarkan laporan resmi Forbes yang dirilis 10 Desember 2025, total kekayaan kolektif 50 orang terkaya Indonesia mencapai US$306 miliar, naik dari US$263 miliar tahun sebelumnya — didorong oleh kenaikan indeks saham hingga 17 persen sepanjang tahun. Di tengah dominasi konglomerat laki-laki dari sektor perbankan dan energi, kelima wirausaha perempuan Indonesia ini membuktikan kehadiran yang substantif, bahkan sebagian membangun imperium bisnisnya dari titik nol.


Tabel: Lima Wirausaha Perempuan Indonesia di Forbes 50 Richest 2025

Nama Ranking Kekayaan (USD) Sektor Utama
Marina Budiman #8 ~US$8,2 miliar Teknologi – Data Center
Dewi Kam #17 ~US$4,3 miliar Energi – Batu Bara & PLTU
Arini Subianto #33 ~US$2,4 miliar Holding – Sawit, Batu Bara, Karet
Jenny Quantero #41 ~US$1,4 miliar Tambang – Bayan Resources
Hartati Murdaya #44 ~US$1,25 miliar IT, Sawit, Properti

Sumber: Forbes Indonesia's 50 Richest 2025, berdasarkan harga saham per 21 November 2025


Marina Budiman dan Dewi Kam: Dua Wirausaha Perempuan di Lapis Teratas Indonesia

Marina Budiman menempati posisi ke-8 dengan kekayaan bersih sekitar US$8,2 miliar — satu-satunya perempuan wirausaha Indonesia dalam 10 besar Forbes 2025. Perjalanannya tidak dimulai dari modal besar, melainkan dari karier sebagai karyawan di Bank Bali pada 1985, kemudian berkembang menjadi manajer proyek dan CFO di PT Sigma Cipta Caraka.

Pada 1994, bersama Otto Toto Sugiri, Marina mendirikan Indonet — penyedia layanan internet komersial pertama di Indonesia, di saat teknologi ini masih asing bagi mayoritas masyarakat. Titik balik terbesar hadir pada 2011 ketika keduanya, bersama Han Arming Hanafia, mendirikan PT DCI Indonesia Tbk (DCII), operator data center Tier IV pertama di Asia Tenggara. Saat DCII melantai di bursa pada 2021, Marina langsung masuk Forbes 50 Richest untuk pertama kalinya di posisi ke-30. Pada 2025, lonjakan permintaan infrastruktur digital mendorong saham DCII — dan kekayaan Marina — ke level miliarder papan atas.

Dewi Kam menempati posisi ke-17 dengan kekayaan sekitar US$4,3 miliar. Sumber utamanya adalah kepemilikan saham minoritas sekitar 10 persen di PT Bayan Resources Tbk, salah satu dari empat produsen batu bara terbesar Indonesia berdasarkan volume penjualan. Namun Dewi bukan sekadar pemegang saham pasif. Melalui PT Sumber Energi Sakti Prima (SSP), ia bermitra dalam proyek PLTU Jeneponto di Sulawesi Selatan dan mengelola Coal Based Chemical Plant di Pangkep senilai US$687 juta — sebuah pendekatan yang memadukan kepemilikan aset finansial dengan pengelolaan infrastruktur secara aktif.

Pola yang membedakan keduanya: Marina membangun dari nol di sektor teknologi yang saat itu belum matang, sementara Dewi mengkombinasikan kepemilikan saham strategis dengan operasional proyek energi berskala besar.

Baca juga: Wirausaha Perempuan Grace Tahir: Mewarisi Privilege, Membangun Relevansi Sendiri


Arini Subianto, Jenny Quantero, dan Hartati Murdaya: Tiga Jalur Kepemimpinan yang Berbeda

Tiga nama berikutnya menghadirkan perspektif yang sama-sama relevan bagi wirausaha perempuan Indonesia yang sedang membangun atau mewarisi bisnis.

Arini Subianto (posisi ke-33, US$2,4 miliar) adalah contoh transformasi dari penerus bisnis keluarga menjadi pemimpin korporasi modern yang melek investasi teknologi. Setelah ayahnya, taipan Benny Subianto, wafat pada Januari 2017, Arini mengambil alih Persada Capital Investama — perusahaan induk dengan portofolio di pengolahan kayu, minyak kelapa sawit, karet, batu bara, hingga saham di Alamtri Resources Indonesia (sebelumnya Adaro Energy). Yang patut dicatat: sejak 2017, Arini secara konsisten mengalokasikan modal Persada untuk berinvestasi di startup teknologi. Ini adalah keputusan strategis yang menunjukkan kesadaran bahwa bisnis berbasis sumber daya alam perlu diimbangi dengan portofolio pertumbuhan di era digital.

Jenny Quantero (posisi ke-41, US$1,4 miliar) membangun kekayaannya bersama suaminya Engki Wibowo melalui peran kunci dalam mendirikan PT Bayan Resources pada 2004. Ia bukan sekadar pemegang saham: Jenny menjabat sebagai Direktur Urusan Korporasi sekaligus Sekretaris Perusahaan sejak awal berdirinya perusahaan. Keterlibatan aktif dalam tata kelola — bukan sekadar kepemilikan saham — adalah karakteristik penting yang membentuk posisinya hingga hari ini.

Hartati Murdaya (posisi ke-44, US$1,25 miliar) adalah wajah baru dalam daftar Forbes 2025. Setelah suaminya, Murdaya Poo, berpulang pada April 2025 di usia 84 tahun, ia mengambil alih posisi sebagai Direktur Utama Central Cipta Murdaya — perusahaan dengan portofolio mencakup teknologi informasi, kelapa sawit, kayu lapis, dan properti, termasuk Jakarta International Expo. Kehadiran Hartati mencerminkan tantangan nyata suksesi kepemimpinan dalam bisnis keluarga — sebuah konteks yang sangat relevan bagi banyak pelaku usaha keluarga di Indonesia.


Pola Strategis yang Bisa Dipelajari Wirausaha Perempuan Indonesia Skala UMKM

Sahabat Wirausaha, lima profil di atas bukan sekadar daftar nama orang kaya. Ada pola analitis yang bisa diekstrak untuk kepentingan strategis usahamu, meski dalam skala yang sangat berbeda.

Spesialisasi mendalam mengalahkan diversifikasi prematur. Marina Budiman menghabiskan lebih dari dua dekade di satu ekosistem — teknologi informasi dan infrastruktur digital — sebelum mendirikan DCII. Fokus jangka panjang pada bidang yang dikuasai secara mendalam menghasilkan posisi kompetitif yang sulit ditiru dibanding strategi berpindah-pindah sektor.

Peluang terbesar sering ada di celah yang belum terlayani. Marina melihat defisit kapasitas data center Indonesia dibanding negara tetangga. Dewi Kam melihat peluang investasi energi di saat belum banyak investor ritel yang mempertimbangkannya. Membaca kesenjangan pasar — bukan sekadar mengikuti tren — adalah kompetensi kritis yang berlaku di semua skala bisnis.

Tata kelola aktif lebih bernilai dari sekadar kepemilikan. Jenny Quantero hadir sebagai direktur dan sekretaris perusahaan sejak awal pendirian Bayan Resources, bukan sekadar pemegang saham. Bagi pelaku UMKM, ini berarti perbedaan antara bisnis yang kamu miliki secara pasif dan bisnis yang kamu kelola secara strategis.

Investasi ke ekosistem baru dilakukan saat posisi kuat, bukan saat kepepet. Arini Subianto mulai berinvestasi di startup teknologi sejak 2017 — saat portofolio inti bisnisnya masih solid. Ini adalah langkah antisipasi, bukan reaksi darurat.

Baca juga: Wirausaha Perempuan Atika Algadri Makariem: Dari Femina ke Warisan Nilai Bisnis yang Abadi


Risiko dan Perspektif: Membaca Angka Ini Secara Kritis

Penting untuk tidak membaca daftar ini secara naif. Beberapa catatan kritis perlu disertakan.

Pertama, sebagian besar kekayaan bersumber dari kepemilikan saham perusahaan publik yang nilainya fluktuatif. Kekayaan Marina Budiman melonjak seiring performa saham DCII di bursa — dan bisa bergerak ke arah sebaliknya jika sentimen pasar berubah. Nilai berbasis pasar modal bukan ukuran tunggal kesehatan bisnis.

Kedua, dari kelima nama, hanya Marina Budiman yang dapat dikategorikan sebagai pengusaha perempuan Indonesia yang membangun bisnisnya dari titik nol secara penuh di sektor yang ia masuki sebagai individu. Dewi Kam dan Jenny Quantero memperoleh sebagian besar kekayaannya melalui kepemilikan di perusahaan yang dibangun bersama mitra bisnis lain. Arini dan Hartati mewarisi dan melanjutkan bisnis keluarga. Konteks awal ini penting untuk dibedakan — bukan untuk merendahkan, melainkan agar perbandingan menjadi lebih tepat dan pembelajarannya lebih relevan.

Ketiga, konsentrasi kekayaan di sektor batu bara dan energi fosil membawa risiko jangka panjang di tengah tekanan transisi energi global. Seberapa cepat dan strategis para pengusaha ini menggeser portofolio ke sektor rendah karbon akan menentukan relevansi bisnis mereka dalam satu dekade ke depan.


Refleksi bagi UMKM

Kehadiran lima wirausaha perempuan Indonesia dalam Forbes 50 Richest 2025 adalah sinyal — bukan capaian puncak. Jika di 2017 hanya ada dua perempuan dalam daftar ini dan kini ada lima, trayektorinya memang bergerak maju, meski lambat.

Pertanyaan yang lebih substansial bukan sekadar berapa banyak perempuan yang masuk daftar tersebut, melainkan: di sektor dan model bisnis apa perempuan Indonesia masih underrepresented? Data center adalah satu dari sedikit sektor teknologi di mana Indonesia kini memiliki pemimpin perempuan bertaraf global. Bagaimana dengan fintech, manufaktur berkelanjutan, atau pertanian berbasis presisi?

Bagi kamu yang hari ini mengelola warung, gerai online, atau usaha jasa skala kecil — nama-nama dalam daftar ini mungkin terasa jauh. Tapi pola yang mereka tunjukkan — keberanian membaca peluang yang belum terlayani, disiplin dalam tata kelola, dan kesabaran membangun dalam jangka panjang — adalah prinsip yang berlaku di semua skala bisnis. Sejarah wirausaha perempuan Indonesia sedang ditulis, dan bagian berikutnya mungkin sedang kamu mulai hari ini. Ayo bersiap!

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia di bawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan komunitas UMKM—yuk daftar jadi anggota melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Daftar Referensi

  • Forbes Indonesia's 50 Richest 2025 (Desember 2025). https://www.forbes.com/lists/indonesia-billionaires/ 
  • Forbes 50 Wanita Terkaya Dunia 2025 (September 2025). https://www.forbes.com/sites/juliegoldenberg/2025/04/01/the-richest-women-in-the-world-2025/ 
  • Sumber foto: https://bandungmu.com/