Sumber foto: magnific.com

Sahabat Wirausaha, dalam beberapa artikel sebelumnya menunjukkan bagaimana norma gender, tipe kelompok, dan kesenjangan literasi keuangan digital membatasi peran perempuan di kelompok usaha. Menurut kajian Bank Indonesia dan Women's World Banking, ada satu faktor lagi yang diam-diam menyabotase semua upaya pemberdayaan itu: cara pelatihan dirancang. Satu jenis hambatan ternyata paling sering bikin ilmu yang sudah didapat menguap begitu saja.

Sahabat Wirausaha, pernah ikut pelatihan usaha yang keren pas hari-H, tapi setelah itu ilmunya nggak pernah benar-benar dipraktikkan? Menurut kajian ini, ini bukan cuma soal daya ingat kamu. Ada pola sistemik di baliknya — dan perempuan pelaku usaha yang paling sering kena dampaknya, karena satu alasan yang jarang dibahas terang-terangan: peran ganda di rumah tangga.

Bayangkan seorang ibu pelaku usaha kecil yang sebenarnya sangat ingin ikut pelatihan pemasaran. Tapi jadwalnya bentrok dengan jam antar-jemput anak sekolah, dan informasi soal pelatihan itu sendiri cuma sampai ke telinga ketua kelompok — bukan ke dia. Bahkan kalau akhirnya berhasil ikut, begitu pelatihan selesai, nggak ada lagi forum untuk bertanya atau mempraktikkan ilmunya bareng-bareng. Pelan-pelan, ilmu itu pun kembali dilupakan.

Baca Juga: Punya Rekening Sendiri Ternyata Belum Cukup untuk Perempuan Pelaku Usaha Mandiri


Empat Hambatan Utama yang Bikin Pelatihan Nggak Sampai

Menurut kajian Bank Indonesia dan Women's World Banking, mayoritas anggota kelompok usaha sebenarnya berminat ikut pelatihan untuk mengembangkan kapasitas dan meningkatkan pendapatan. Tapi manfaatnya belum dirasakan merata, terutama oleh perempuan, karena empat hambatan berikut:

Hambatan Penjelasan
Informasi top-down Info pelatihan sering hanya sampai ke ketua/pengurus, tidak menjangkau seluruh anggota
Jadwal tidak fleksibel Jadwal kaku, tidak mempertimbangkan peran ganda perempuan di rumah tangga
Minim tindak lanjut Tidak ada forum diskusi atau pendampingan pasca-pelatihan, ilmu cepat menguap
Insentif kurang jelas Pelatihan dirasa tidak berdampak langsung ke pendapatan atau kelangsungan usaha

Sumber: Kajian Bank Indonesia & Women's World Banking, 2025.

Setelah pelatihan awal, tidak ada sesi tindak lanjut atau forum untuk berbagi pengalaman, sehingga anggota kembali ke praktik lama — begitu temuan kajian ini merangkum keluhan yang berulang dari responden.


Kenapa Peran Ganda Jadi Kunci Persoalan

Menurut kajian ini, banyak anggota perempuan menanggung peran ganda antara mengurus rumah tangga sekaligus menjalankan usaha mikro. Ketika jadwal pelatihan kaku dan tidak mempertimbangkan waktu luang mereka, alih-alih memberdayakan, pelatihan justru berisiko memperbesar kesenjangan keterampilan antaranggota — karena yang sulit hadir bukan yang kurang niat, tapi yang keterbatasan waktunya paling nyata.

Sementara itu, kelompok yang terlalu bergantung pada satu figur sentral (ketua atau pemilik usaha) cenderung tidak memberi ruang bagi anggota lain untuk ikut pelatihan, terutama kalau pelatihan itu dianggap kurang relevan oleh figur sentral tersebut — padahal kebutuhan tiap anggota bisa sangat berbeda.

Baca Juga: Kesenjangan Gender Ini Bikin Perempuan Sulit Naik Jadi Ketua Kelompok Usaha


Preferensi Pelatihan Perempuan vs Laki-laki, Ternyata Beda Jauh

Kajian ini juga memetakan perbedaan kebutuhan pelatihan yang cukup mencolok antara perempuan dan laki-laki:

Aspek Preferensi Perempuan Preferensi Laki-laki
Waktu Hari kerja, khususnya jam sekolah anak Akhir pekan/hari libur, lebih fleksibel
Format Kelompok kecil, suasana nyaman Fleksibel, asal ada ruang tanya jawab
Fasilitator Sesama pelaku usaha kecil yang dikenal Tokoh usaha besar yang dianggap sukses
Dukungan Transportasi penting; tempat penitipan anak belum cukup menjawab kebutuhan Transportasi penting; pengasuhan anak biasanya dibantu keluarga

Sumber: Kajian Bank Indonesia & Women's World Banking, 2025.

Menariknya, menurut kajian ini, penyediaan tempat bermain anak saat pelatihan ternyata belum sepenuhnya efektif — karena mayoritas perempuan tetap merasa terbebani tanggung jawab pengasuhan meski anaknya "dititipkan" di lokasi yang sama.


Pelatihan yang Efektif Itu Seperti Apa?

Berdasarkan temuan kajian ini, pelatihan yang benar-benar berdampak perlu memenuhi tiga hal: berbasis praktik dan kontekstual (langsung mendukung produksi atau pemasaran), fleksibel terhadap waktu dan dinamika gender, serta mengintegrasikan pembelajaran langsung seperti kunjungan lapangan atau business matching ke kelompok usaha lain.

Pendekatan seperti ini bukan cuma soal "lebih ramah perempuan", tapi soal memastikan investasi waktu dan sumber daya pelatihan benar-benar menghasilkan perubahan nyata di lapangan — bukan sekadar sertifikat dan foto dokumentasi.


Apa yang Bisa Kelompok Usahamu Lakukan Sekarang?

Kalau kamu pengurus kelompok usaha, mulai dari hal sederhana: pastikan informasi pelatihan sampai ke semua anggota, bukan cuma ke ketua. Tanyakan jadwal yang paling memungkinkan buat anggota perempuan, dan usahakan selalu ada forum tindak lanjut setelah pelatihan selesai — sekecil apa pun bentuknya, misalnya grup diskusi singkat atau sesi berbagi pengalaman sebulan sekali.

Menurut kajian ini, insentif juga jadi kunci: pelatihan akan jauh lebih diminati kalau manfaatnya terasa langsung, entah lewat akses pasar baru, kemudahan pembayaran digital, atau bentuk penghargaan lain atas partisipasi anggota. Tanpa keterkaitan yang jelas ke hasil nyata, sebaik apa pun materi pelatihannya, partisipasi akan tetap rendah.

Baca Juga: Perempuan Mayoritas, Suara Minoritas: Potret Kelompok Usaha Subsisten di Indonesia

Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.

Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas.

Daftar Referensi: 

Bank Indonesia & Women's World Banking. (2025). Menuju model bisnis inklusif yang responsif gender: Pembelajaran dari kelompok subsisten di Indonesia. Bank Indonesia.

Tautan resmi terkait: bi.go.id | ojk.go.id | womensworldbanking.org