
Sahabat Wirausaha, Pilar Ekonomi dalam Laporan Keberlanjutan mencakup laporan nilai ekonomi yang dihasilkan dan didistribusikan usahamu, proporsi pemasok lokal, kepatuhan pajak, hingga rencana investasi dan inovasi. Pilar ini penting karena membuktikan bahwa bisnismu tidak hanya mengejar keuntungan pribadi, tapi juga menggerakkan ekonomi di sekitarnya.
Tanpa data ini tersusun rapi, usahamu berisiko kesulitan meyakinkan buyer, lembaga donor, atau mitra pembiayaan bahwa kontribusi ekonominya nyata — padahal datanya mungkin sudah ada, hanya belum pernah dirapikan dalam satu laporan.
Kamu mungkin pernah dengar istilah Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report/SR), tapi masih bingung harus mulai dari mana. Salah satu titik masuk paling realistis justru dari pilar yang paling dekat dengan keseharian usaha: Pilar Ekonomi. Berbeda dari pilar Lingkungan atau Sosial yang kadang butuh data teknis baru, data ekonomi umumnya sudah kamu punya lewat catatan pembukuan, slip gaji, atau bukti bayar pajak — tinggal disusun ulang dengan format yang tepat.
Standar GRI (Global Reporting Initiative), standar pelaporan keberlanjutan yang paling banyak dipakai di dunia, menempatkan pilar ekonomi sebagai salah satu dari empat pilar utama dalam Laporan Keberlanjutan, bersama Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola. Artikel ini akan membahas komponen apa saja yang perlu kamu siapkan di pilar ekonomi, sekaligus cara menyusunnya berdasarkan praktik yang dianjurkan standar GRI. Yuk kita bahas!
Apa Saja yang Termasuk Pilar Ekonomi?
Pilar Ekonomi dalam Laporan Keberlanjutan tidak sama dengan laporan keuangan biasa. Kalau laporan keuangan fokus pada untung-rugi untuk kepentingan internal atau investor, pilar ekonomi dalam SR berfokus pada bagaimana nilai ekonomi yang dihasilkan usahamu didistribusikan ke berbagai pihak: karyawan, pemasok, negara, hingga masyarakat sekitar.
Berikut topik-topik utama yang umumnya tercakup dalam pilar ini:
| Topik | Fokus Pelaporan |
| Nilai Ekonomi Dihasilkan & Didistribusikan | Omset, biaya operasional, gaji karyawan, pembayaran ke pemasok, kontribusi ke masyarakat |
| Pengadaan Lokal (GRI 204) | Proporsi bahan baku, jasa, dan mitra pemasok yang berasal dari wilayah lokal |
| Kepatuhan Pajak (GRI 207) | Jenis dan nilai pajak yang dibayarkan sebagai kontribusi ke negara |
| Investasi & Inovasi | Rencana alokasi dana untuk efisiensi, produktivitas, atau pengembangan produk |
Baca Juga: Laporan Keberlanjutan Bisnis untuk UMKM: Memahami Pilar, Standar, dan Langkah Awal
1. Nilai Ekonomi yang Dihasilkan dan Didistribusikan
Ini adalah bagian inti dari pilar ekonomi. Idealnya, data disajikan dalam bentuk tabel selama dua sampai tiga tahun berturut-turut agar terlihat trennya. Kalau usahamu baru mulai menyusun laporan ini, tidak masalah memulai dari data satu tahun terakhir saja.
Komponen yang perlu dicantumkan biasanya meliputi:
- Pendapatan yang dihasilkan (omset)
- Biaya operasional
- Gaji dan remunerasi karyawan
- Pembayaran ke pemasok atau supplier
- Investasi untuk masyarakat sekitar (donasi, program sosial, dan sejenisnya)
- Nilai ekonomi untuk investor atau pemberi pinjaman (bila ada bunga atau bagi hasil)
- Hibah atau bantuan pemerintah (bila ada)
Menyajikan data ini secara transparan menunjukkan bahwa nilai ekonomi yang diciptakan usahamu tidak berhenti di kantong sendiri, tapi mengalir ke berbagai pihak dan turut menggerakkan ekonomi lokal.
2. Pengadaan Lokal: Seberapa Besar Kontribusimu ke Ekonomi Sekitar?

Selain nilai ekonomi, standar GRI 204 merekomendasikan pelaporan soal proporsi pengadaan barang dan jasa dari pemasok lokal. Topik ini penting karena menunjukkan sejauh mana usahamu ikut menghidupkan ekonomi di wilayah operasionalnya, bukan hanya mengandalkan pemasok dari luar daerah.
Cara melaporkannya cukup sederhana: hitung persentase bahan baku, jasa pendukung, dan mitra pemasok yang berasal dari lingkup lokal (misalnya satu provinsi yang sama dengan lokasi usahamu). Jangan lupa cantumkan definisi "lokal" yang kamu pakai, karena setiap usaha bisa punya cakupan wilayah yang berbeda tergantung skala operasionalnya.
3. Kepatuhan Pajak: Bukan Beban, tapi Bukti Kontribusi
Bagian ini sering terlewat dalam pelaporan UMKM, padahal kepatuhan pajak (GRI 207) adalah salah satu bukti kontribusi nyata usahamu terhadap pembangunan negara. Cantumkan jenis pajak yang kamu bayarkan — misalnya Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Penghasilan Badan, atau Pajak Bumi dan Bangunan bila relevan — beserta nilainya di tahun pelaporan.
Kalau usahamu belum wajib membayar pajak tertentu, misalnya karena omset belum mencapai ambang batas PPN, tuliskan saja keterangannya apa adanya. Prinsip laporan keberlanjutan bukan soal terlihat sempurna, tapi soal jujur menggambarkan kondisi usaha saat ini.
4. Rencana Investasi dan Inovasi
Komponen terakhir dari pilar ekonomi adalah rencana investasi ke depan. Setiap usaha butuh investasi untuk mendanai inovasi yang bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan relevansi produk bagi konsumen.
Kamu bisa menuliskannya dalam bentuk tabel sederhana berisi rencana inovasi, alokasi anggaran, dan keterangan singkat. Misalnya, rencana efisiensi penggunaan air, perbaikan pengelolaan limbah produksi, atau investasi mesin baru. Yang penting, angkanya realistis sesuai kondisi keuangan usahamu, bukan sekadar target di atas kertas.
Baca juga: SDGs adalah Kompas Baru UMKM untuk Tumbuh Berkelanjutan dan Lebih Siap Bersaing
Cara Memulai Tanpa Kewalahan
Sahabat Wirausaha, kalau ini pertama kalinya kamu menyusun pilar ekonomi dalam laporan keberlanjutan, mulailah dari data yang sudah ada di pembukuanmu. Kamu tidak perlu menunggu data tiga tahun lengkap atau sistem pencatatan yang canggih. Cukup mulai dari satu tahun terakhir, lalu perbaiki kelengkapannya secara bertahap di periode berikutnya.
Kami juga menyediakan Template Laporan Keberlanjutan (SR) gratis yang bisa langsung kamu isi sesuai struktur ini: s.id/template-sr-umkm. Supaya pengisiannya tepat, ikuti dulu kursus video tutorialnya step by step di s.id/kursus-sr — kursus ini merupakan bagian dari kolaborasi GRI bersama Tumbu.co.id dan UKMIndonesia.id untuk mendukung UMKM Indonesia menyusun laporan keberlanjutannya sendiri. Semangat belajar!
Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.
Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas.
Daftar Referensi:
- Global Reporting Initiative, GRI 201: Economic Performance (globalreporting.org)
- Global Reporting Initiative, GRI 204: Procurement Practices (globalreporting.org)
- Global Reporting Initiative, GRI 207: Tax (globalreporting.org)
- Kursus Pembelajaran Membangun Bisnis Berdampak dengan Laporan Keberlanjutan









