Sahabat Wirausaha, menghitung emisi dan energi dalam Laporan Keberlanjutan berarti mencatat pemakaian bahan bakar dan listrik usahamu, lalu mengonversinya jadi data emisi karbon. Data ini dibagi tiga cakupan sesuai standar GRI 305: emisi langsung, tidak langsung, dan rantai nilai. UMKM disarankan mulai dari cakupan 1 dan 2 lebih dulu.

Tanpa data ini, kamu cuma bisa menebak-nebak dari mana kebocoran biaya energimu berasal — padahal tagihan listrik dan gas yang terus naik seiring produksi bisa jadi tanda efisiensi operasional yang perlu segera dibenahi.

Kamu mungkin berpikir, "ngapain UMKM repot hitung emisi, perusahaan besar aja masih banyak yang cuek?" Justru karena skala usahamu masih kecil, efisiensi energi jadi makin krusial. Setiap penghematan energi langsung berdampak ke margin keuntungan, apalagi kalau volume produksi terus bertambah.

Ada juga alasan lain yang makin sering muncul: beberapa buyer dari luar negeri, terutama Eropa dan Jepang, kini rutin meminta data emisi dari pemasoknya sebelum mau meneken kontrak. Kalau usahamu jadi bagian rantai pasok perusahaan besar, data emisimu bisa masuk dalam pelaporan cakupan 3 mereka. Jadi, mulai mencatat emisi bukan lagi soal gaya hidup hijau semata, tapi soal daya saing bisnis di pasar yang makin ketat.

Artikel ini adalah lanjutan dari pembahasan Pilar Ekonomi. Sekarang giliran kita masuk ke Pilar Lingkungan, dimulai dari dua topik yang paling dekat dengan biaya operasional harianmu: emisi dan energi.


Apa Itu Emisi dan Kenapa UMKM Perlu Menghitungnya?

Sumber foto: magnific.com

Emisi adalah gas buang yang terlepas ke udara akibat kegiatan manusia, misalnya proses produksi, transportasi, atau pembakaran bahan bakar. Emisi ini terakumulasi di atmosfer dan memicu efek rumah kaca, yang berdampak pada perubahan iklim: cuaca tak menentu, risiko gagal panen, gangguan logistik, hingga fluktuasi harga bahan baku yang makin sulit diprediksi.

Bagi UMKM, dampaknya bukan cuma soal lingkungan. Perubahan iklim yang tak terkendali membuat perhitungan biaya bisnis dan estimasi margin makin sulit dilakukan. Di sisi lain, mencatat pemakaian energi secara rutin justru membuka peluang efisiensi biaya yang selama ini mungkin tidak disadari.


Tiga Cakupan Emisi yang Perlu Kamu Pahami

Standar GRI 305 membagi emisi menjadi tiga cakupan atau scope. UMKM disarankan mulai dari cakupan 1 dan 2 karena datanya lebih mudah dikumpulkan.

Cakupan Definisi Contoh
Cakupan 1 (Langsung) Bahan bakar yang langsung dipakai untuk kegiatan usaha LPG untuk mesin sangrai, bensin kendaraan operasional
Cakupan 2 (Tidak Langsung) Listrik yang digunakan usaha Tagihan listrik PLN untuk operasional produksi
Cakupan 3 (Rantai Nilai) Emisi dari aktivitas mitra bisnis akibat kemitraan denganmu Emisi operasional UMKM pemasok bagi perusahaan besar

Kalau usahamu berperan sebagai pemasok bagi perusahaan besar, emisi dari operasionalmu berpotensi masuk dalam laporan cakupan 3 milik perusahaan tersebut. Karena itu, makin banyak perusahaan besar yang mulai meminta data emisi dari pemasoknya, termasuk UMKM.


Cara Menghitung Emisi Tanpa Perlu Ahli Lingkungan

Kamu tidak perlu latar belakang teknis untuk mulai menghitung emisi. Sudah ada beberapa kalkulator emisi digital gratis yang bisa dipakai, di antaranya Jejakkarbonku.id, GHG Emissions Calculator, dan Kalkulator Hijau dari Bank Indonesia yang tersedia dalam bentuk aplikasi di Play Store maupun App Store.

Langkah umumnya kurang lebih seperti ini:

  1. Masukkan nama usaha dan periode perhitungan (misalnya 1 Januari–31 Desember tahun berjalan).
  2. Isi data pemakaian bahan bakar cakupan 1, misalnya konsumsi LPG per tahun (dalam kg) dan bahan bakar kendaraan operasional (dalam liter).
  3. Isi data pemakaian listrik cakupan 2 berdasarkan total tagihan tahunan (dalam kWh).
  4. Jika sudah ada upaya pengurangan emisi seperti penggunaan energi terbarukan, tambahkan datanya. Jika belum, lewati saja bagian ini.
  5. Unduh hasil rekapitulasi emisi dari halaman ringkasan aplikasi.

Kalkulator ini bekerja tanpa perlu registrasi, jadi datamu tetap privat. Kalau tidak ada opsi bahan bakar yang persis sama dengan kondisi usahamu, pilih saja opsi yang paling mendekati.


Menyusun Tabel Energi dan Emisi di Laporan Keberlanjutan

Setelah dihitung, rangkum datanya dalam format tabel seperti ini agar mudah dibaca dan dibandingkan antar tahun:

Cakupan/Sumber Emisi Satuan Pemakaian Tahun Lalu Pemakaian Tahun Ini
Cakupan 1 — Bahan bakar produksi kg / liter ... ...
Cakupan 1 — Bahan bakar kendaraan liter ... ...
Total Emisi Cakupan 1 kg CO2 eq ... ...
Cakupan 2 — Energi listrik kWh ... ...
Total Emisi Cakupan 2 kg CO2 eq ... ...
Total Biaya Energi Rp ... ...

Cantumkan juga sumber alat hitung yang kamu pakai sebagai keterangan, misalnya "emisi dihitung menggunakan Kalkulator Hijau BI". Ini penting untuk menunjukkan bahwa datamu bisa ditelusuri metodenya, bukan sekadar perkiraan.

Baca juga: 10 Ide Green Business bagi UMKM untuk Keberlanjutan Lingkungan


Menyusun Rencana Aksi Pengurangan Emisi

Data emisi yang sudah terkumpul akan lebih bermakna kalau diikuti rencana aksi. Beberapa langkah sederhana yang bisa kamu terapkan:

  • Rutin memantau pemakaian energi dan emisi setiap periode
  • Mengganti lampu ke jenis LED dan membiasakan mematikan alat elektronik saat tidak dipakai
  • Menetapkan kuota produksi minimum agar pemakaian alat produksi lebih optimal
  • Menjajaki opsi energi terbarukan sesuai kemampuan usaha, misalnya panel surya untuk kebutuhan tertentu

Targetnya sederhana: usahamu bisa tumbuh dari sisi produksi dan penjualan, tanpa kenaikan emisi yang sebanding. Data emisi dan energi yang tercatat rapi juga jadi bukti konkret ketika calon investor atau buyer ingin menilai keseriusan komitmen keberlanjutan bisnismu.

Setelah pilar emisi dan energi ini lengkap, laporanmu masih perlu dilengkapi topik Pilar Lingkungan lainnya, yaitu material, air, dan limbah, yang akan dibahas di artikel selanjutnya.

Kamu bisa langsung praktik mengisi Template Laporan Keberlanjutan gratis di s.id/template-sr-umkm. Supaya pengisiannya tepat, ikuti dulu kursus video tutorialnya step by step di s.id/kursus-sr — kursus ini merupakan bagian dari kolaborasi GRI bersama Tumbu.co.id dan UKMIndonesia.id untuk mendukung UMKM Indonesia menyusun laporan keberlanjutannya sendiri.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Daftar Referensi:

  1. Global Reporting Initiative, GRI 305: Emissions (globalreporting.org)
  2. Global Reporting Initiative, GRI 302: Energy (globalreporting.org)
  3. Bank Indonesia, Kalkulator Hijau (bi.go.id)
  4. ursus pembelajaran Membangun Bisnis Berdampak dengan Laporan Keberlanjutan