Sahabat Wirausaha, ketika nilai tukar rupiah menembus level Rp 17.600 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026, banyak pihak langsung memandangnya sebagai persoalan pasar modal atau urusan kalangan finansial semata. Padahal, angka itu bukan sekadar deretan digit di layar dealer room bank. Bagi pelaku usaha kecil yang membeli bahan baku, peternak yang mengandalkan pakan impor, atau pedagang kuliner yang bergantung pada kedelai, pelemahan rupiah adalah kenyataan yang menekan margin hari demi hari.
Berdasarkan data Bloomberg pada 18 Mei 2026, rupiah berada di kisaran Rp 17.680 per dolar AS — jauh melampaui asumsi kurs dalam APBN 2026 yang ditetapkan di level Rp 16.500. Artinya, selisihnya sudah lebih dari Rp 1.100 atau sekitar 6,7 persen di luar proyeksi awal pemerintah. Ini bukan gejolak kecil. Ini adalah tekanan struktural yang membutuhkan respons kalkulatif dari para pelaku UMKM di ...