Sumber foto: magnific.com

Sahabat Wirausaha, tepung tapioka Indonesia diekspor ke China, Jepang, Korea Selatan, dan negara Eropa, dengan sentra produksi utama di Lampung. Pada 2025, nilai ekspornya mencapai USD 4,15 juta, naik 3,9%. Negara pembeli tetap membutuhkan pasokan tapioka karena singkong adalah tanaman tropis yang sulit dibudidayakan secara masif di iklim mereka.

Tapi jangan buru-buru bangga dulu. Di saat bersamaan, Indonesia justru masih rutin mengimpor ratusan ribu ton tepung tapioka dari Thailand dan Vietnam. Kok bisa negara pengekspor juga jadi pengimpor komoditas yang sama? Jawabannya ada di struktur pasar tapioka dunia — dan di situ juga tersembunyi peluang buat pelaku UMKM.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal aneh dalam perdagangan komoditas pertanian. Kementerian Perdagangan mencatat ekspor tepung tapioka Indonesia ke dunia pada 2025 mencapai USD 4,15 juta, tumbuh 3,9% dibanding tahun sebelumnya, dan pada Januari–Februari 2026 saja sudah tercatat USD 416 ribu. Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, serta beberapa negara di kawasan Eropa jadi tujuan utama.

Tapi angka pertumbuhan itu perlu dibaca hati-hati. Sepanjang 2024–2025, permintaan tapioka dunia justru sempat melemah terutama di sektor kertas dan pangan olahan, yang berimbas ke harga singkong di tingkat petani Lampung — sempat anjlok dari patokan pemerintah Rp1.350/kg jadi hanya Rp1.000–1.100/kg di lapangan. Artinya, kenaikan nilai ekspor nasional tidak otomatis berarti semua rantai pasok ikut sejahtera. Ini konteks penting sebelum kita bahas peluangnya lebih jauh.

Baca Juga: Manfaat Biji Nangka yang Jarang Diketahui, Peluang Bisnis UMKM dari Limbah Buah


Ke Mana Saja Tepung Tapioka Indonesia Diekspor, dan untuk Apa?

Kemendag membagi produk tapioka ekspor Indonesia ke tiga tingkatan nilai tambah:

Tingkatan Jenis Produk Kegunaan Utama
Basic Native tapioca Industri makanan, produk gluten-free
Value-added Modified & organic tapioca Makanan olahan, kertas, tekstil, farmasi
Specialized Pearl & industrial tapioca Industri minuman kekinian

(Sumber: Kementerian Perdagangan RI, Ditjen PEN)

Ketiga tingkatan produk ini dipasarkan ke tujuan ekspor yang sama: Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara di kawasan Eropa. Semakin tinggi tingkatannya, semakin besar nilai tambah yang bisa dinikmati eksportir — kabar baik buat UMKM pengolah singkong yang mau naik kelas dari sekadar jual tepung mentah ke produk modifikasi bernilai lebih tinggi.


Lampung: Jantung Industri Tapioka Nasional

Hampir semua cerita ekspor tapioka Indonesia bermula dari satu provinsi: Lampung. Hingga 2024, luas tanam singkong di Lampung mencapai 239.994 hektare dengan produksi 7,16 juta ton, menghasilkan 1,79 juta ton tepung tapioka bernilai sekitar Rp10,7 triliun. Ada 67 perusahaan tapioka tersebar di sembilan kabupaten, dengan konsentrasi terbesar di Lampung Tengah (36 perusahaan) — termasuk nama-nama besar seperti PT Budi Acid Jaya, PT Florindo Makmur, dan PT Umas Jaya Agrotama. Dominasi Lampung ini didukung oleh dua hal: lahan singkong yang luas dan rantai pasok-infrastruktur pabrik yang sudah lama terbentuk, sehingga sulit disaingi daerah lain dalam waktu dekat.

Baca Juga: Ekspor Hortikultura Melonjak Tapi Terkonsolidasi: Ini Peluang Nyata yang Belum Digarap UMKM


Kenapa Negara Lain Butuh Tapioka Kalau Mereka Sendiri Bisa Industri Maju?

Ini pertanyaan yang wajar muncul: China, Jepang, Korea Selatan itu negara industri kuat, kenapa masih beli tepung dari Indonesia? Jawabannya bukan soal teknologi, tapi soal geografi tanaman. Singkong (bahan baku tapioka) butuh suhu udara minimal sekitar 10°C, curah hujan 1.500–2.500 mm per tahun, dan sinar matahari sekitar 10 jam sehari — kondisi yang hanya tersedia optimal di wilayah tropis dan sebagian subtropis. Jepang dan Korea Selatan beriklim empat musim dengan musim dingin panjang, sehingga tidak bisa membudidayakan singkong dalam skala industri. China memang punya sebagian wilayah tropis (Hainan, Guangxi), tapi produksinya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan kertasnya yang raksasa. Alhasil, mereka bergantung pada pemasok tropis seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam.


Kalau Ekspornya Bagus, Kenapa Indonesia Masih Impor Tapioka Juga?

Ini bagian penting biar kamu tidak salah baca situasi. Pada awal 2026, pelaku industri tapioka nasional menyebut impor tetap tinggi karena harga tapioka dari Thailand dan Vietnam jauh lebih murah — kedua negara itu memproduksi dalam skala lebih besar dengan biaya operasional lebih efisien. Dampaknya, penyerapan singkong petani lokal ikut tertekan saat industri memilih bahan impor demi menekan biaya produksi. Jadi posisi Indonesia sebenarnya dua sisi: mengekspor tapioka bernilai tambah ke pasar niche (Jepang, Korea, Eropa), sambil tetap mengimpor tapioka curah murah untuk kebutuhan volume besar. Sebuah studi daya saing bahkan menempatkan indeks keunggulan kompetitif tapioka Indonesia (0,59) masih di bawah Thailand (0,98) dan India (0,89) — artinya ruang untuk memperkuat posisi tawar masih terbuka lebar.


Lalu Kenapa Kita Impor Gandum Tapi Justru Ekspor Tapioka?

Inilah inti "dunia pertepungan" yang kamu tanyakan. Indonesia jadi salah satu importir gandum terbesar dunia — sekitar 7,2 juta ton per tahun — karena gandum adalah tanaman subtropis-temperate yang butuh musim dingin jelas untuk berbunga optimal (proses vernalisasi). Riset gandum tropis sudah puluhan tahun dilakukan berbagai universitas, tapi hasilnya belum mampu menyaingi hasil panen varietas asli dari negara empat musim seperti Rusia, Kanada, atau Australia. Singkong justru sebaliknya: tanaman ini tumbuh subur di iklim tropis lembap yang justru jadi musuh gandum. Jadi bukan berarti Indonesia "kalah" di gandum dan "menang" di tapioka — ini murni soal kecocokan agroklimat. Setiap negara punya keunggulan komparatif pada komoditas yang cocok dengan kondisi alamnya, dan tapioka adalah salah satu titik kuat Indonesia yang belum sepenuhnya dioptimalkan.

Baca Juga: Rempah Termahal Kedua di Dunia Ini Tumbuh Subur di Indonesia — Tapi Kita Belum Kaya dari Sana


Bukan Cuma Buat Makanan: Peluang Tapioka di Industri Hijau

Selama ini tapioka identik dengan bahan pangan — mi, bakso, kerupuk. Padahal menurut Kemendag, permintaan tapioka dunia justru makin ditopang sektor non-pangan: industri kertas, tekstil, farmasi, hingga bahan baku bioplastik. Sifat tapioka yang fleksibel, bebas gluten, dan dapat terurai secara alami membuatnya makin relevan di tengah tren global menuju produk ramah lingkungan — mulai dari kemasan biodegradable sampai bahan pengganti plastik sekali pakai. Pengembangan produk turunan seperti modified tapioca starch dan bio-based material disebut sebagai strategi jangka panjang untuk mendongkrak nilai ekspor sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global, karena produk-produk ini punya nilai jual jauh lebih tinggi dibanding tapioka mentah biasa.


Peluang Ekspor UMKM

Buat pelaku UMKM di sektor pangan atau pengolahan hasil pertanian, ada dua celah nyata di sini. Pertama, produk turunan bernilai tambah — modified tapioca starch, bio-based material, atau bahan baku ramah lingkungan — punya permintaan yang terus tumbuh seiring tren global menuju produk berbasis nabati dan bebas gluten. Kedua, diversifikasi ke sektor non-pangan (kemasan ramah lingkungan, bahan baku tekstil atau farmasi berbasis pati) bisa jadi jalan keluar saat permintaan pasar pangan sedang melemah seperti yang terjadi 2024–2025. Ketiga, penguatan posisi tawar petani lokal lewat kemitraan langsung dengan pabrik pengolahan, supaya nilai tambah ekspor tidak hanya dinikmati industri besar tapi juga sampai ke tingkat petani singkong.

Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.

Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas.