Sumber foto: magnific.com

Sahabat Wirausaha, kalau selama ini Amerika Serikat, Eropa, atau Jepang jadi tujuan ekspor yang paling sering terpikir, ada satu pasar yang belakangan menunjukkan performa cukup mengejutkan: Chile. Nilai perdagangan Indonesia-Chile pada 2025 tercatat USD535,51 juta, tumbuh 12,40 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan ekspor Indonesia ke Chile mencapai USD441,5 juta dan mencatat surplus USD347,5 juta. Kemudahan ini didukung Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) yang sudah membebaskan tarif impor hingga 0 persen untuk ribuan pos tarif produk Indonesia, sekaligus menjadikan Chile sebagai pintu masuk strategis ke pasar Amerika Latin yang lebih luas.

Baca Juga: Peluang dan Syarat Ekspor Produk Beauty Wellness Indonesia ke Pasar Turki


Kenapa Tren Dagang Indonesia-Chile Perlu Kamu Cermati

Pertumbuhan dagang Indonesia-Chile bukan lonjakan sesaat. Dalam periode 2021-2025, rata-rata pertumbuhan ekspor Indonesia ke Chile tercatat 10,76 persen per tahun, sementara menurut Apindo, sepanjang 2019-2025 nilai ekspor Indonesia ke Chile bahkan melonjak hampir 250 persen hingga mencapai USD441 juta pada 2025. Tren ini terus berlanjut pada 2026: ekspor Indonesia ke Chile periode Januari-April 2026 sudah mencapai USD136,96 juta.

Yang membuat tren ini lebih bermakna bagi pelaku usaha adalah tingkat pemanfaatan perjanjian dagangnya. Kementerian Perdagangan mencatat utilisasi IC-CEPA pada 2025 mencapai 75,7 persen dari total ekspor Indonesia ke Chile — artinya mayoritas eksportir yang sudah masuk ke pasar ini benar-benar memakai fasilitas tarif preferensial, bukan sekadar perjanjian yang jarang dimanfaatkan.


IC-CEPA: Fasilitas yang Membuat Produk Indonesia Lebih Kompetitif

IC-CEPA sendiri bukan perjanjian baru. Bagian perdagangan barangnya sudah berlaku sejak 2019, dan menyusul bagian perdagangan jasa yang mulai diimplementasikan pada 2025. Di bawah skema ini, sebanyak 6.704 produk Indonesia memperoleh fasilitas bebas tarif masuk ke pasar Chile, mencakup produk pertanian, perikanan, manufaktur, pertambangan, hingga industri. Fasilitas tarif 0 persen untuk ribuan pos tarif ini pada dasarnya menghilangkan salah satu hambatan terbesar yang biasanya membuat produk UMKM kalah bersaing harga di pasar ekspor baru.

Pada Juli 2026, Menteri Perdagangan Budi Santoso bersama Menteri Luar Negeri Chile José Francisco Pérez Mackenna sepakat mempercepat optimalisasi IC-CEPA, termasuk membuka perundingan investasi lanjutan dan mendorong pembentukan forum bisnis (business council) agar interaksi pelaku usaha dari kedua negara makin intensif. Kedua negara juga berencana memperkuat forum bisnis dan pameran dagang lewat INA-LAC Business Mission 2026 di Santiago pada awal Oktober, serta Trade Expo Indonesia ke-41 pada pertengahan Oktober 2026 — dua momentum yang bisa kamu manfaatkan kalau tertarik menjajaki pasar ini.

Baca Juga: Peluang Ekspor UMKM ke Jepang: Data Pasar, Sertifikasi, dan Kunci Sukses


Produk Apa Saja yang Punya Peluang di Pasar Chile?

Secara makro, ekspor Indonesia ke Chile saat ini masih didominasi kendaraan penumpang dan kendaraan bermotor lain, pupuk mineral dan kimia, serta alas kaki. Namun di luar komoditas besar itu, Kemendag mengidentifikasi sejumlah kategori produk UMKM yang punya potensi besar untuk masuk ke pasar Chile:

  • Kopi spesialti Indonesia, yang punya daya tarik tersendiri di tengah masyarakat Chile yang terbuka terhadap produk impor berkualitas.
  • Makanan dan minuman olahan, termasuk produk siap saji dan camilan khas Indonesia.
  • Produk kecantikan berbahan alami, sejalan dengan tren konsumen global yang mengutamakan bahan natural.
  • Kerajinan tangan dan home décor, kategori yang biasanya menonjolkan ciri khas budaya dan keterampilan tangan Indonesia.
  • Produk ramah lingkungan (eco-friendly products), yang makin dicari seiring meningkatnya kesadaran keberlanjutan di pasar internasional.

Kelima kategori ini relevan buat UMKM karena tidak membutuhkan skala produksi sebesar otomotif atau pupuk kimia, sehingga pelaku usaha kecil dan menengah punya peluang nyata untuk ikut ambil bagian, bukan hanya eksportir besar.


Mengapa Chile Layak Jadi Pertimbangan, Bukan Sekadar Pasar Alternatif

Sumber foto: voaindonesia.com

Ada beberapa alasan konkret yang membuat Chile menarik sebagai tujuan ekspor, bukan cuma karena fasilitas tarifnya. Daya beli masyarakat di Chile relatif tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Amerika Latin, didukung iklim perdagangan yang terbuka dan kondusif bagi pelaku usaha asing. Chile juga punya jaringan perjanjian dagang yang luas dengan berbagai negara, sehingga memposisikan dirinya sebagai pintu masuk strategis menuju negara-negara Amerika Latin lain seperti Brasil, Argentina, Kolombia, Ekuador, hingga Uruguay.

Permintaan terhadap produk berkualitas dan bernilai tambah di Chile juga terus berkembang, bukan sekadar produk komoditas murah. Kondisi ini cukup pas dengan karakter sebagian besar produk UMKM Indonesia yang punya nilai tambah dari sisi cita rasa, desain, atau proses produksi berbasis bahan alami — hal yang sulit ditiru produsen massal.

Nama Chile memang jarang terdengar sebagai tujuan ekspor, tapi kondisi alam dan ekonominya justru menjelaskan kenapa negara ini punya potensi. Chile adalah produsen tembaga terbesar dunia, dengan kontribusi tambang sekitar separuh dari total ekspor negaranya — struktur ekonomi yang membuat Chile sejak lama terbiasa mengandalkan produk impor untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, karena basis manufaktur domestiknya memang tidak sebesar basis tambangnya. Ditambah bentuk negara yang memanjang dari gurun di utara hingga Patagonia di selatan, variasi produksi dalam negeri jadi terbatas, sehingga masyarakatnya relatif terbuka terhadap produk asing dibanding negara dengan industri dalam negeri yang lebih dominan. Riset konsumen terbaru juga menunjukkan masyarakat Chile senang mencoba produk baru dan bersedia membayar lebih untuk produk dengan manfaat kesehatan — tapi tetap sensitif terhadap harga. Kombinasi ini relevan untuk produk UMKM: Chile bukan pasar untuk barang murah massal, tapi juga belum tentu cocok untuk produk super-premium; titik temunya ada di produk unik dengan harga yang tetap wajar.


Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Masuk ke Pasar Chile

Meski peluangnya terbuka, Chile tetap posisinya sebagai tujuan ekspor Indonesia urutan ke-46, bukan pasar yang sudah mapan seperti Amerika Serikat atau Tiongkok. Artinya, infrastruktur logistik, jaringan distributor, dan pemahaman pasar lokal masih perlu dibangun dari awal oleh pelaku usaha yang ingin masuk. Kamu juga perlu memastikan produk memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari (SPS), keamanan pangan, serta ketentuan kepabeanan Chile, terutama untuk produk pangan dan pertanian.

Perlu dicatat juga bahwa keterbukaan pasar ini bersifat dua arah. Indonesia turut membuka akses untuk produk pertanian dan pangan Chile seperti ceri, anggur, beri, dan apel sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku — misalnya impor anggur segar dari Chile pada 2025 saja sudah mencapai USD6,97 juta dengan tarif preferensi nol persen. Jadi, Sahabat Wirausaha yang bergerak di sektor sejenis juga perlu mewaspadai masuknya produk impor Chile dengan tarif yang sama kompetitifnya.

Baca Juga: Ekspor ke Thailand: Panduan Lengkap Dokumen, Sertifikasi, dan Langkah Pengiriman untuk UMKM


Langkah Praktis Kalau Kamu Ingin Mulai Menjajaki Pasar Ini

Sebelum terjun langsung, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan lebih dulu. Pertama, cek apakah produkmu termasuk dalam 6.704 pos tarif yang sudah mendapat fasilitas bebas tarif di bawah IC-CEPA — informasi kode HS dan skema tarifnya bisa ditelusuri lewat portal resmi Kemendag atau Indonesia National Single Window (INSW). Kedua, manfaatkan momentum forum bisnis yang sudah dijadwalkan, seperti INA-LAC Business Mission 2026 di Santiago dan Trade Expo Indonesia ke-41, sebagai sarana bertemu langsung calon buyer tanpa harus membangun jaringan dari nol. Ketiga, bagi produk pangan dan pertanian, pastikan dokumen sanitari dan fitosanitari (SPS) serta sertifikasi keamanan pangan sudah disiapkan sejak awal, karena proses ini biasanya memakan waktu lebih lama dibanding pengurusan dokumen ekspor pada umumnya.


Memanfaatkan Momentum, Bukan Menunggu Pasar Datang Sendiri

Tren pertumbuhan dagang Indonesia-Chile yang konsisten selama lima tahun terakhir, ditambah fasilitas tarif nol persen dari IC-CEPA, memberi sinyal bahwa pintu masuk ke pasar ini sedang terbuka lebih lebar dibanding sebelumnya. Namun, seperti pasar ekspor non-tradisional lainnya, keberhasilan menembus Chile tetap membutuhkan langkah aktif dari pelaku usaha — mulai dari riset pasar, pemenuhan standar produk, hingga keikutsertaan dalam forum bisnis dan pameran dagang yang sudah disiapkan pemerintah. Chile bisa jadi pijakan awal yang realistis sebelum melangkah lebih jauh ke pasar Amerika Latin yang lebih besar.

Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.

Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas.

•