Sumber foto: pexels.com

Sahabat Wirausaha, ekspor nonmigas Indonesia pada Agustus 2026 tercatat USD 25,62 miliar, naik 7,23% dibanding Agustus 2025. Secara kumulatif Januari-Agustus, nilainya mencapai USD 185,63 miliar atau naik 5,48%. Tapi kenaikan itu sebagian besar datang dari logam seperti nikel, besi baja, dan aluminium, jadi belum tentu mencerminkan kondisi produk UMKM. 

Setiap awal bulan, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ekspor-impor, dan hampir semua media menulis hal yang sama: angkanya naik atau turun. Padahal buat pelaku usaha kecil, pertanyaan yang lebih berguna adalah angka itu datang dari mana, dari pasar mana, dan apakah ada ruang untuk produk skala kecil di dalamnya.

Baca Juga: Ekspor Tapioka Indonesia ke China, Jepang, dan Eropa: Peluang serta Tantangan Pasarnya


Angka Utama Kinerja Ekspor Agustus 2026

Berikut ringkasan data dari rilis BPS 1 Oktober 2026:

Indikator Nilai Perubahan
Ekspor nonmigas Agustus 2026 USD 25,62 miliar naik 7,23% dibanding Agustus 2025
Ekspor nonmigas Jan-Agustus 2026 USD 185,63 miliar naik 5,48% dibanding Jan-Agustus 2025
Total ekspor Jan-Agustus 2026 USD 193,64 miliar naik 4,74%
Total impor Jan-Agustus 2026 USD 186,39 miliar naik 19,84%
Surplus neraca perdagangan Jan-Agustus 2026 USD 7,25 miliar surplus nonmigas USD 28,54 miliar, defisit migas USD 21,29 miliar

Tabel ini perlu dibaca dengan satu catatan: ekspor nonmigas yang menopang surplus. Sektor migas Indonesia masih defisit, jadi kinerja perdagangan secara keseluruhan sangat bergantung pada barang-barang nonmigas.


Siapa yang Mendorong Kenaikan?

Menurut paparan Deputi BPS Ateng Hartono, kenaikan ekspor Agustus terutama ditopang nikel dan barang daripadanya (HS 75) yang naik 51,67% secara tahunan, besi dan baja (HS 72) naik 20,38%, serta aluminium dan barang daripadanya yang naik 206,78%.

Ketiganya produk industri berat yang umumnya dikerjakan perusahaan besar. Jadi, kalau kamu pelaku UMKM dan membaca "ekspor naik 7%", jangan langsung menyimpulkan semua jenis produk Indonesia sedang laris di luar negeri. Kenaikan ini sebagian besar datang dari komoditas logam.

Lima produk ekspor nonmigas terbesar sepanjang Januari-Agustus 2026, menurut infografis Kementerian Perdagangan yang bersumber dari BPS:

  1. Lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15): USD 25,14 miliar (13,54%)
  2. Bahan bakar mineral (HS 27): USD 22,68 miliar (12,22%)
  3. Besi dan baja (HS 72): USD 19,18 miliar (10,33%)
  4. Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85): USD 13,06 miliar (7,03%)
  5. Nikel dan barang daripadanya (HS 75): USD 8,59 miliar (4,62%)

Jika dijumlahkan, kelima produk ini menyumbang sekitar 47,7% dari ekspor nonmigas.

Baca Juga: Peluang Ekspor UMKM ke Jepang: Data Pasar, Sertifikasi, dan Kunci Sukses


Ke Mana Ekspor Indonesia Mengalir?

Untuk periode Januari-Agustus 2026, lima negara tujuan utama ekspor nonmigas adalah:

Negara Nilai Pangsa
Tiongkok USD 47,44 miliar 25,55%
Amerika Serikat USD 22,41 miliar 12,07%
India USD 12,77 miliar 6,88%
Jepang USD 10,51 miliar 5,66%
Malaysia USD 8,37 miliar 4,51%

Jika dijumlahkan, kelima negara ini menyerap sekitar 54,7% ekspor nonmigas. Ada dua hal yang menarik buat UMKM. Pertama, Tiongkok sendiri menyerap seperempat lebih ekspor nonmigas, tanda ketergantungan pada satu pasar yang cukup besar. Kedua, Jepang dan Malaysia yang berada di posisi keempat dan kelima punya jalur perdagangan yang relatif sudah terbuka, lewat perjanjian kemitraan ekonomi dengan Jepang (IJEPA) dan kerja sama perdagangan barang ASEAN untuk Malaysia.

Itu bukan berarti masuk ke dua pasar ini otomatis mudah. Jepang, misalnya, menuntut standar sertifikasi dan pelabelan yang ketat. Tapi dari sisi jalur dan peluang, keduanya memberi titik awal yang lebih jelas dibanding pasar yang belum punya skema dagang khusus dengan Indonesia. 


Ekspor Nonmigas Didominasi Industri Pengolahan

Infografis menunjukkan pangsa ekspor nonmigas menurut sektor: industri pengolahan 82,40%, pertambangan 11,56%, dan pertanian-kehutanan-perikanan hanya 1,90%.

Angka ini punya dua pelajaran. Barang yang diekspor Indonesia kebanyakan sudah melalui proses pengolahan, bukan bahan mentah. Dan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam bentuk mentah kontribusinya kecil. Bagi UMKM yang bergerak di pangan olahan, kerajinan, kosmetik, atau produk berbahan hasil bumi, ini sinyal bahwa nilai tambah dari pengolahan itulah yang paling banyak dihargai pasar ekspor.

Satu catatan: data ini tidak memecah kontribusi UMKM secara khusus, jadi kita tidak bisa melihat seberapa besar bagian usaha kecil di dalam angka-angka tersebut.

Baca Juga: Dokumen dan Alur Transaksi Ekspor yang Perlu Dipahami UMKM Sebelum Masuk Pasar Global


Impor yang Tumbuh Lebih Cepat

Satu hal yang sering terlewat saat membaca berita ekspor adalah sisi impornya. Sepanjang Januari-Agustus 2026, impor tumbuh 19,84%, jauh lebih cepat dari ekspor yang naik 4,74%. Surplus tetap ada, tapi selisihnya menjadi lebih tipis dibanding laju kenaikan impor.

Menurut data BPS yang dikutip ANTARA, sebagian besar impor berupa bahan baku dan penolong, yakni USD 133,38 miliar dari total USD 186,39 miliar. Bagi UMKM manufaktur yang bahan bakunya masih diimpor, ini jadi pengingat untuk memantau biaya input dan mencari alternatif bahan baku lokal bila memungkinkan.


Cara Membaca Data Ekspor Agar Tidak Salah Tafsir

Rilis BPS penuh istilah yang bisa membuat bingung. Tiga yang paling sering muncul:

  • Nonmigas dan migas. Nonmigas mencakup semua ekspor selain minyak dan gas bumi, seperti produk manufaktur, logam, minyak nabati, dan pangan olahan. Produk UMKM masuk ke kelompok ini.

  • YoY dan CtC. YoY (year on year) membandingkan satu bulan dengan bulan yang sama tahun lalu, misalnya Agustus 2026 dengan Agustus 2025. CtC (cumulative to cumulative) membandingkan akumulasi Januari sampai bulan tertentu dengan akumulasi periode yang sama tahun lalu. Itu sebabnya angka 7,23% (Agustus saja) dan 5,48% (Januari-Agustus) berbeda.

  • Kode HS. Ini sistem klasifikasi barang internasional (Harmonized System) yang disusun Organisasi Pabean Dunia (WCO). Dua digit pertama menunjukkan kelompok besar (bab), misalnya HS 15 untuk lemak dan minyak nabati atau HS 72 untuk besi dan baja. Kode HS produkmu penting karena dipakai dalam dokumen ekspor-impor dan berkaitan dengan tarif serta aturan yang berlaku untuk barang tersebut. Di Indonesia, daftar kodenya dimuat dalam Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI), yang bisa dilihat di laman BTKI Bea Cukai.


Apa yang Bisa Dilakukan UMKM dari Data Ini?

Beberapa langkah praktis yang bisa kamu ambil:

  • Pilih pasar sesuai kesiapan produk. Cek dulu apakah produkmu sudah memenuhi standar di negara tujuan, bukan hanya melihat besar kecilnya pasar. Pelajari ragam standar internasional lewat artikel kami tentang standar global produk ekspor.

  • Cari celah di produk olahan. Karena ekspor nonmigas didominasi industri pengolahan, produk dengan nilai tambah lebih mudah menarik minat pembeli luar negeri dibanding bahan mentah.

  • Pantau data secara rutin. Data ekspor per negara dan komoditas bisa dilihat langsung di portal Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, jadi kamu tidak perlu menunggu berita untuk tahu tren pasar tujuanmu.

  • Jangan bergantung pada satu pasar. Konsentrasi ekspor ke Tiongkok mengingatkan bahwa mengandalkan satu pembeli punya risiko. Untuk skala UMKM, mulailah dengan satu pasar, lalu perluas bertahap.

Angka ekspor yang naik memang kabar baik, tapi kenaikan itu belum tentu otomatis menjadi peluang bagi usaha kecil. Yang bisa kamu lakukan adalah membaca datanya dengan teliti, menentukan pasar dan produk yang paling siap, lalu menyiapkan standar sejak awal.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Referensi:

  1. Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik: Ekspor dan Impor Indonesia Agustus 2026, rilis 1 Oktober 2026.
  2. Kementerian Perdagangan RI, infografis Kinerja Ekspor Nonmigas dan Tujuan Ekspor Utama Januari-Agustus 2026 (sumber data: BPS).
  3. Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan. 3a. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI).
  4. CNBC Indonesia, "BPS: Ekspor RI Naik 6,72%, Tembus US$26,61 M di Agustus," 1 Oktober 2026 (kutipan paparan Deputi BPS mengenai komoditas pendorong).
  5. ANTARA, "BPS catat Neraca Dagang RI hingga Agustus surplus 7,25 miliar dolar AS," 1 Oktober 2026 (komposisi impor menurut penggunaan).



•